Al-Maziid Fii Muttashil Al-Asanid

Taisir Musthalah Hadits halaman 110; Nudhatun-Nadhar halaman 48; Al-Ba’itsul-Hatsits halaman 176; dan Tadribur-Rawi halaman 392

Definisi

Al-Mazid adalah isim maf’ul dari kata ziyaadah yang berarti tambahan.

Al-Muttashil adalah lawan kata dari Al-Munqathi’ yang berarti bersambung. (lebih…)

Published in: on Oktober 16, 2007 at 3:46 am  Komentar Dinonaktifkan pada Al-Maziid Fii Muttashil Al-Asanid  

Maqlub

Nudhatun-Nadhar halaman 47; Taisir Musthalah Hadits halaman 107; Ulumul-Hadits halaman 91; Al-Ba’itsul-Hatsits halaman 78; dan Tadriibur-Rawi halaman 191

Definisi

Menurut bahasa, kata “maqlub” adalah isim maf’ul dari kata qalb yang berarti membalikkan sesuatu dari bentuk yang semestinya.

Menurut istilah, hadits maqlub adalah “mengganti salah satu kata dari kata-kata yang terdapat pada sanad atau matan sebuah hadits, dengan cara mendahulukan kata yang seharusnya diakhirkan, mengakhirkan kata yang seharusnya didahulukan, atau dengan cara yang semisalnya.

Bagian-Bagiannya

Hadits maqlub terbagi menjadi dua bagian : maqlub sanad dan maqlub matan.

1. Maqlub Sanad

Maqlub sanad adalah hadits maqlub yang penggantiannya terjadi pada sanadnya. Maqlub sanad ini mempunyai dua bentuk :

Bentuk pertama : seorang perawi mendahulukan dan mengakhirkan satu nama dari nama-nama para perawi dan nama ayahnya. Misalnya sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ka’ab bin Murrah, namun seorang perawi meriwayatkan hadits tersebut dengan mengatakan : “Murrah bin Ka’ab”.

Tentang permasalahan ini Al-Khathib Al-baghdadi menulis sebuah buku yang beliau namai dengan Raf’ul-Irtiyab fil-Maqlub minal-Asmaa’ wal-Ansaab.

Bentuk Kedua : Seorang perawi mengganti salah satu nama dari nama-nama perawi sebuah hadits dengan nama lain, dengan tujuan supaya nama perawi tersebut tidak dikenal. Seperti hadits yang sudah terkenal diriwayatkan dari Salim, namun seorang perawi mengganti namanya dengan nama Nafi’.

Contoh:“

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Hammad bin ‘Amr An-Nashibi (seorang pendusta), dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu secara marfu’ :

”Jika kalian bertemu dengan orang-orang musyrik di suatu jalan, maka janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada mereka”.

Hadits ini adalah hadits yang maqlub, karena Hammad membaliknya, dimana dia menjadikan hadits ini diriwayatkan dari Al-A’masy. Padahal sudah diketahui bersama bahwa hadits ini diriwayatkan dari Suhail bin Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu. Seperti inilah Imam Muslimmeriwayatkannya dalam kitabnya. Beliau meriwayatkannya dari Syu’bah, Ats-Tsauri, Jarir bin Abdul-Hamid, dan Abdul-‘Aziz Ad-Daruwardi; kesemuanya dari Suhail.

Pelaku perbuatan ini jika melakukannya dengan sengaja, maka ia dijuluki “pencuri hadits”. Perbuatan ini terkadang dilakukan oleh perawi yang terpercaya karena keliru, bukan karena kesengajaan sebagaimana yang dilakukan oleh perawi pendusta.

2. Maqlub Matan

Maqlub matan adalah hadits maqlub yang penggantiannya terjadi pada matannya. Maqlub matan ini mempunyai dua bentuk :

Bentuk pertama : Seorang perawi mendahulukan sebagianmatan yang seharusnya diakhirkan dari sebuah hadits dan mengakhirkan sebagian matan yang seharusnya didahulukan.

Contoh :

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu. Yaitu hadits tentang tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya, dimana hari itu tidak ada naungan selain naungan-Nya. Di dalamnya disebutkan salah satu dari ketujuh golongan tersebut :

”dan seorang laki-laki yang bersedekah kemudian ia menyembunyikan sedekahnya sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya”. Ini adalah salah satu riwayat yang terbalik yang dilakukan oleh seorang perawi.

Sedangkan riwayat yang benar adalah : ”Sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya”. Seperti inilah hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Kitab Al-Muwaththa’-nya, Imam Bukhari dalam Kitab Shahih-nya, dan para ahli hadits lain. Itulah contoh dari bagian pertama, dimana ada keterbalikan dalam matannya karena sudah menjadi suatu yang maklum bahwa bersedekah itu dilakukan dengan tangan kanan.

Bentuk kedua : Seorang perawi menyambung sebuah matan hadits dengan sanad hadits lain dan menyambungkan sebuah sanad hadits dengan matan hadits lain. Penggantian ini dilakukan dalam rangka menguji sebagian ulama hadits, supaya bisa diketahui sampai dimana tingkat kekuatan hafalannya sebagaimana yang dilakukan oleh ulama’ Baghdad terhadap Imam Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari ketika datang menemui mereka.

Al-Khathib Al-Baghdadi meriwayatkan bahwa para ulama Baghdad berkumpul dan bersepakat untuk membolak-bailkkan matan dan sanad seratus hadits, dimana mereka menyambungkan matan dengan sanad lain dan menyambungkan sanad dengan matan lain. Kemudian mereka memberikan hadits-hadits yang mereka balik matan dan sanadnya kepada Imam Bukhari dan menanyakan kepadanya. Maka satu per satu beliau mampu mengembalikan matan ke sanadnya dan mengembalikan sanad ke matannya tanpa melakukan kesalahan sedikitpun.

Hukum Melakukan Pembalikan Matan atau Sanad

Hadits maqlub termasuk salah satu dari jenis-jenis hadits yang dla’if. Akan tetapi hukumnya berubah-ubah menurut sebab terjadinya pembalikan (qalb).

1. Jika pembalikan pada matan dan sanad hadits dilakukan bertujuan agar sanad atau matannya tidak diketahui, maka perbuatan ini tidak diperbolehkan karena perbuatan tersebut sama dengan merubah hadits. Sedangkan merubah hadits adalah perbuatan para perawi pendusta.

2. Jika dilakukan untuk menguji yang betujuan untuk mengecek tingkat kekuatan hafalan dan kelayakan seorang menjadi ahli hadits, maka hal ini diperbolehkan. Kebolehan melakukan pembalikan ini harus memenuhi syarat. Yaitu seorang perawi yang melakukan pembalikan harus menjelaskan matan dan sanad tersebut sebelum ia meninggalkan tempat.

Published in: on Oktober 16, 2007 at 3:45 am  Komentar Dinonaktifkan pada Maqlub  

Perbedaan Hadits, Khabar, Dan Atsar

Definisi Hadits

Hadits menurut bahasa berarti baru. Hadits juga – secara bahasa – berarti : “sesuatu yang dibicarakan atau dinukil”. Juga : “sesuatu yang sedikit atau banyak”. Bentuk jamak dari hadits adalah ahaadits.  Adapun firman Allah Subhanahu Ta’ala:

”Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada hadits ini” (QS. Al-Kahfi : 6). Maksud hadits dalam ayat ini adalah Al-Qur’an. (lebih…)

Published in: on Oktober 16, 2007 at 3:43 am  Komentar Dinonaktifkan pada Perbedaan Hadits, Khabar, Dan Atsar  

Hadits Shahih

Mukaddimah

Berita (khabar) yang dapat diterima bila ditinjau dari sisi perbedaan tingkatannya terbagi kepada dua klasifikasi pokok, yaitu Shahîh dan Hasan. Masing-masing dari keduanya terbagi kepada dua klasifikasi lagi, yaitu Li Dzâtihi dan Li Ghairihi. Dengan demikian, klasifikasi berita yang diterima ini menjadi 4 bagian, yaitu:

1. Shahîh Li Dzâtihi (Shahih secara independen)

2. Hasan Li Dzâtihi (Hasan secara independen)

3. Shahîh Li Ghairihi (Shahih karena yang lainnya/riwayat pendukung)

4. Hasan Li Ghairihi (Hasan karena yang lainnya/riwayat pendukung)

Dalam kajian kali ini, kita akan membahas seputar bagian pertama di atas, yaitu Shahîh Li Dzâtihi (Shahih secara independen) (lebih…)

Published in: on Oktober 16, 2007 at 3:38 am  Komentar Dinonaktifkan pada Hadits Shahih  

ZIYADAH ATS-TSIQAH

Yang dimaksud dengan ziyadah ats-tsiqah adalah hadits yang terdapat padanya tambahan perkataan dari sebagian perawi yang tsiqah, sedang hadits itu diriwayatkan juga oleh perawi lain (tetapi tidak memakai tambahan itu).

Para ulama hadits telah memeprhatikan hal ini, di antara mereka yang terkenal : (lebih…)

Published in: on Oktober 16, 2007 at 3:35 am  Komentar Dinonaktifkan pada ZIYADAH ATS-TSIQAH  

Hadits Mauquf & Hadits Maqthu’

Hadist Mauquf

Definisi

Al-Mauquf berasal dari kata waqf yang berarti berhenti. Seakan-akan perawi menghentikan sebuah hadits pada shahabat.

Hadits Mauquf menurut istilah adalah “perkataan, atau perbuatan, atau taqrir yang disandarkan kepada seorang shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, baik yangbersambung sanadnya kepada Nabi ataupun tidak bersambung. (lebih…)

Published in: on Oktober 16, 2007 at 3:33 am  Komentar Dinonaktifkan pada Hadits Mauquf & Hadits Maqthu’  

Hadits Marfu’

Definisi

Al-Marfu’ menurut bahasa merupakan isim maf’ul dari kata rafa’a (mengangkat), dan ia sendiri berarti “yang diangkat”. Dinamakan marfu’ karena disandarkannya ia kepada yang memiliki kedudukan tinggi, yaitu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Hadits Marfu’ menurut istilah adalah “sabda, atau perbuatan, atau taqrir (penetapan), atau sifat yang disandarkan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, baik yang bersifat jelas ataupun secara hukum (disebut marfu’ = marfu’ hukman), baik yang menyandarkannya itu shahabat atau bukan, baik sanadnya muttashil (bersambung) atau munqathi’ (terputus). (lebih…)

Published in: on Oktober 16, 2007 at 3:31 am  Komentar Dinonaktifkan pada Hadits Marfu’  

Hadits Qudsi

Pembagian Hadits Menurut Sandarannya

Hadits menurut sandarannya terbagi menjadi dua, yaitu maqbul (diterima) dan mardud (ditolak). Dan berdasarkan pembagian ini terbagi lagi menjadi empat macam, yaitu :

1. Hadits Qudsi

2. Hadits Marfu’

3. Hadits Mauquf

4. Hadits Maqthu’

HADITS QUDSI (lebih…)

Published in: on Oktober 16, 2007 at 3:29 am  Komentar Dinonaktifkan pada Hadits Qudsi  

Bid’ah& Su’ul-Hifdh

Bid’ah

Nudhatun-Nadhar halaman 53; Ulumul-Hadits halaman 103; Al-Ba’tsul-Hatsits halaman 100; Tadribur-Rawi halaman 216; dan Taisir Musthalahul-Hadits halaman 123


Definisi

Secara bahasa, kata Bid’ah berarti : “segala sesuatu yang diada-adakan tanpa ada contohnya di masa terdahulu”.


Sedangkan secara istilah, Bid’ah adalah : “sesuatu dari urusan agama yang diada-adakan setelah wafatnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tanpa ada dasarnya”.

Jenis-Jenisnya

Bid’ah dibagi menjadi dua, yaitu Bid’ah Mukaffirah dan Bid’ah Mufassiqah.

1.  Bid’ah Mukaffirah

Bid’ah mukaffirah adalah bid’ah yang dapat menjadikan pelakunya menjadi kafir. (lebih…)

Published in: on Oktober 16, 2007 at 3:27 am  Komentar Dinonaktifkan pada Bid’ah& Su’ul-Hifdh  

Jahalatur-Raawi

Ketidaktahuan Akan Kondisi Perawi (Jahalatur-Raawi)

Definisi
Kata Jahalah secara bahasa adlah lawan kata dari “mengetahui”. Sedangkan lafadh Al-Jahalatu bir-Rawi artinya : “ketidaktahuan akan kondisi perawi”.

Sebab-Sebab Ketidaktahuan akan Kondisi Perawi (lebih…)

Published in: on Oktober 16, 2007 at 3:26 am  Komentar Dinonaktifkan pada Jahalatur-Raawi