Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin

Nama dan Nasabnya

Nama dan silsilah keturunannya adalah Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Ibrahim bin Fahd bin Hamd bin Jibrin. Silsilahnya bersambung sampai ke kabilah Bani Zaid.

Kelahirannya

Beliau lahir tahun 1349 H. di desa Muhairaqa, Qowaiea. Terletak sekitar 180 km dari ibu kota Riyad.

Pendidikan
Setelah usianya genap satu tahun, mereka pindah ke Rayan. Di kota kecil itu orang tuanya memasukkannya sekolah tahun 1358 H. Mulailah ia belajar membaca dan menulis sampai tahun 1364 H. Setelah itu ia mulai menghafal al-Quran. Sebagian al-Quran berhasil ia hafal khususnya bagian sepertiga terakhir dan sisanya ia belajar dengan ayahnya Syaikh Abdurrahman sambil menghapal hadits nabawi yang empat puluh termasuk mempelajarinya sebagai ilmu­-ilmu dasar.

Pada tahun 1467 H, ia mengajukan permohonan belajar kepada Syaikh Abdul Aziz Sythry -rahimahulloh- agar bisa ikut belajar ‘(menjadi muridnya), akan tapi sang Syaikh tidak mau menerima murid, jika murid tersebut belum hapal al-Quran 30 juz. Akhirnya Syaikh Jibrin berusaha berkonsentrasi menghafal al-Quran hingga ia menghafalnya dengan betul, dan hafalannya selesai tepat pada penghujung tahun.

Setelah itu barulah ia belajar dengan Syaikh Sythry dengan jadwal setiap sehabis sholat Subuh, dilanjutkan lagi di waktu duha (pagi), kemudian satu jam setelah sholat Ashar dan setelah sholat Maghrib hingga masuk waktu sholat Isya. Buku-buku yang dipelajarinya pun bervariasi; mulai dari buku-buku ringkas seperti: Zaadul Mustaqniq, `Umdatul Kalam, al-Arba’in an-Nabawiyah, Kitabut Tauhid, Tsalatsatu Ushul, Syuruth as-Shalah, Adabul Masyi ila as-Shalah, AI Ilqidah al-Wasithiyah dan al-Hamawiyah. Untuk pelajaran Nahwu dan Shorof, ia mempelajari buku Matan AI Ujrumiyah.

Dalam hal pelajaran Faraid, ia mempelajari buku ar­Rahabiyah. Begitu juga ia belajar pakai buku-buku syarah besar, seperti buku: Subulus Salam, Syarh a!-Arba’in an-Nabawiyah karangan Ibnu Rajab, buku Tarikh karangan Ibnu Katsir berikut dengan kitab Tafsirnya, Tarsir Ibnu Jarir at-Thabari, Syarh Masa’il al-Jahiliyah karangan Mahmud al-Alusi al-Iraqi, buku tafsir an­Naisaburi yang berjudul Gharaib al-Quran, dan masih banyak lagi buku-buku syarah dan karangan-karangan ulama baik itu yang masih berupa manuskrip maupun yang sudah dicetak. Selama masa belajar, ia tidak henti-hentinya mengulang hafalan al-Quran. Setelah ayahnya wafat, ia sholat Jum’at dan berjamaah di Mesjid Raya.

Belajar ke luar daerah

Ia menamatkan studi di Ma’had Imam Dakwah, Riyadh tahun 1381 H. Setelah itu ia diterima menjadi tenaga pengajar di sekolah yang sama. fa bekerja sebagai tenaga pengajar hingga berikutnya ia diminta pindah ke Universitas Imam Muhammad bin Sa’ud Islamiyah menjadi dosen di Fakultas Syariah dan Ushuluddin tahun 1395 H, yaitu sebelum dua kuliah tersebut dipisah menjadi dua. Ia masuk sebagai staf akademik fakultas tersebut dan selama ia aktif di sana telah banyak membimbing disertasi Magister.

Pada tahun 1402 H, beliau ditetapkan sebagai anggota komisi fatwa di Dewan Riset Ilmiah dan Fatwa, dekat dengan gurunya Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahulloh-. Pengabdiannya di dewan tersebut merupakan akhir karirya dan setelah itu ia memasuki masa pensiun di bulan Rajab 1418 H. Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaganya.

Syaikh Jibrin meraih gelar Magister dari Perguruan Tinggi Kehakiman tahun 1390 H. dengan judul disertasi “Akhbar al-Aahad fi al-Hadits an-Nabawi” dengan yudisium cumlaud. Gelar doktomya diraih dari perguruan tinggi yang sama pada tahun 1407 H. mentahqiq (investigasi) terhadap buku “Syarah az-Zarkasy ‘ala Mukhtashar al-Khuraqi” dengan yudisium cumlaud level pertama. Dalam disertasi itu ia bertugas mentaqhiq dan mentakhrij (foot­note) hadits sebanyak 7 jilid buku dan buku-buku itu sekarang dicetak dan beredar di toko-toko buku.

Kegiatan harian

Jadwal kegiatan harian Syaikh dimulai dari setelah shalat Subuh memberikan ceramah di salah satu masjid sampai matahari terbit, kemudian pulang ke rumah untuk istirahat. Setelah istirahat, berangkat ke kantor Dewan Riset Ilmiah dan Fatwa. Di kantor, ia menjawab pelbagai pertanyaan tentang masalah keagamaan.

Meskipun penanya-penanya itu ramai setiap hari, ia tidak pemah jenuh. Ia siap membantu siapapun yang membutuhkan bantuan, dan meringankan beban siapapun yang memerlukan. Ia bersedia mengangkat dering telepon penanya. Peat teleponnya tidak pernah berhenti berdering.

Demikianlah kesibukannya sehari-hari. Kerap kali ia orang yang paling terakhir pulang dari kantor Fatwa, bahkan ia sendiri yang mematikan lampu-lampu. Setelah shalat Ashar rumahnya terbuka untuk umum, juga ia menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat tentang masalah agama. Kalau perlu, ia memberikan orientasi, atau memberikan rekomendasi bagi siapa saja yang membutuhkan, sampai masuk waktu Maghrib. Kemudian, ia berangkat ke salah satu masjid di kota Riyad untuk mengisi jadwal pengajian mingguan, mengingat jumlah jadwal pengajiannya dalam seminggu sampai sebelas kali. Setelah sha!at Isya berangkat lagi ke masjid lain, kadang mengisi pengajian, atau seminar dan lain-lain.

Demikianlah jadwal harian Syaikh yang sarat dengan muatan dakwah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala sepanjang pekan. Semoga martabatnya ditinggikan Alloh Subhanahu wa Ta’ala di sisi-Nya.

Keistimewaan Syaikh

Syaikh dikenal sebagai orang yang tawadhu (rendah hati). la sedikit bicara dan tidak akan bicara, kalau tidak karena menjawab pertanyaan. Kalau ulama lain berseberangan pendapat dengannya mengenai suatu hukum atau fatwa syariah, dengan tawadhu ia mengatakan, “mereka adalah ulama dan kita mesti menghormatinya.” Dalam hal menanggapi pendapat ulama lain, ia tidak mau mendebat dengan cara yang kasar dan radikal. Apabila Syaikh Jibrin diundang mengisi pengajian atau ceramah agama di daerah manapun, ia tidak pernah menolak, selama dirinya tidak terikat dengan jadwal atau janji pada pihak lain. Syaikh Jibrin senantiasa berbaik sangka dan tidak pernah merasa iri terhadap siapapun dari kaum ahli sunnah wal jamaah, -sepengetahuan saya dan hanya Allahlah yang lebih tahu- ia selalu tawadhu dalam segala hal. Orang-orang yang mengenalnya pasti menyukainya karena kelapangan hatinya. Tidak mau menolak pelajar atau mahasiswa, atau orang-orang yang minta bantuan. la penuhi permintaan mereka sendirian. Segenap waktunya adalah pengabdian kepada Allah dan agama. Hidupnya dipenuhi dengan kalimat-kalimat Allah atau dengan sabda-sabda Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam.

Martabat dan ketinggian yang ada padanya, dikarenakan ketawadhuannya, mengingat hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Imam Turmudzi dan Imam Ahmad, “Barangsiapa yang bersikap tawadhu’, Allah pasti akan mengangkat martabatnya. ” Apalagi bagi seorang yang diberi ilmu pengetahuan, wara’ dan tawadhu’. Semoga Allah mengampuni kita semua, kita dapat meraih surga dan terhindar dari siksa neraka. ,Washallahu wa sallam `ala Muhammad wa alihi wa shahbihi.

Buku-buku karangan:

  1. Syarh az-Zarkasyi ‘Ala Mukhtashar al-Khurafi; Dirasah wa Tahqiq.
  2. Akhbar al-Ahad fi Hadits an-Nabawi.3. At-Ta’liqaat Ala Matn Lam’ah al-1’tiqad.
  3. At-Ta’liqaat Ala Matn Lam’ah al-1’tiqad.
  4. Fadhlllmi wa Wujub at-Ta’allum.
  5. AhammiyahAl `flmi wa MakanatuAl `Ulama’.
  6. Majmu’ Fatawa wa Rasa’il as-Syaikh Abdullah al-Jibrin.
  7. AI-Mufid fii TaqribAhkam al-Musafir (173 hukum).
  8. AI-Mufid fii TaqribAhkam al-Adzaan (123 hukum).
  9. Al `llam bi Kufri Man Ibtagha Ghairu al-Islam.
  10. As-Siraj al-Wahhaj Lil Mu’tamir wal Hajj.
  11. As-Shiyam: Adab waAhkam.
  12. Khawathir Ramadhaniyah.
  13. Fatawa Adz-Dzakah.
  14. AI-Islam baina al-GF.alw wa al-Jafa’ wa al-Ifrath wa Tafrith.
  15. Fitan Hadza az-Zaman.
  16. AI-Wala’ wa al-Barra’.
  17. Haqiqatullltizam.
  18. AI-Adab wa al-Akhlaq asy-Syar’iah.
  19. Fatawa waAhkam fi Nabiyullah Isa ‘Alaihis Salam.
  20. Syarh AI ‘Aqidah al-Wasatiyah.
  21. Syarh Kitab at-Tauhid.
  22. Fawaid min Syarh Kitab Manar as-Sabil.
  23. Fawaid min Syarh Kitab at-Tauhid.
  24. AI-Amanah.
  25. AI-Hajj: Manafi’uhu waAtsaruhu.
  26. As-Salaf Ash-Shalih baina al-Ilmu wa al-Iman.
  27. AI-Bida’ wa al-Muhadditsat fi AI-Aqaid waAl-A’mal.
  28. Muharramat Mutamakkinah fi Al Ummah.
  29. AI-Jawab al-Faiq fi ar-Radd Ala Mubdil al-Haqaiq.
  30. Asy-Syahadatan Ma’nahuma wa Ma Tastalzimuhu Kullu minhuma.
  31. Syarh Kitab Minhaju as-Salikin.
  32. AI-Irsyad Syarh Lam’atu AI `Itiqad.

Adapun tulisan-tulisan yang pernah diperiksa dan diberinya kata pengantar cukup banyak dan tidak terkira jumlahnya. Wallahu A’lam Bishshawwab


Published in: on Oktober 14, 2007 at 4:36 pm  Komentar Dinonaktifkan pada Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin  
  • %d blogger menyukai ini: