Amru bin Jammuh (wafat 3 H)

Sahabat asal Ansar ini tergolong bangan kaum Ansar yang oleh Nabi mengangkatnya menjadi pemimpin Bani Salamah. Beliau meninggaldalam perang Uhud.

Rasulullah memiliki banyak para sahabat dengan berbagai keistimewaan yang patut diteladani. Satu diantaranya adalah Amr Ibnu Al Jamuh. Kendati pun kakinya pincang, ia termasuk tokoh di kalangan penduduk Madinah dan salah seorang pemimpin Bani Salamah. Putranya, Mu’adz bin Amr lebih dahulu masuk Islam bersama kelompok 70 yang melakukan bai’at Aqabah kepada Rasulullah .

Bersama sahabatnya Mu’adz bin Jabal, Mu’adz bin Amr mendakwahkan Islam di kalangan masyarakat Madinah dengan keberanian yang menakjubkan sebagaimana layaknya pemuda mukmin yang gagah perkasa.

Suatu ketika kedua pemuda muslim ini menyelinap di kegelapan malam ke dalam rumah bapak Mu’adz bin Amr. Mereka mengambil berhala yang ada disitu dan membuangnya ke dalam lubang tempat membuang hajat. Amr Ibnu Al Jamuh yang tidak menjumpai sang tuhan Manaf di keesokan harinya, sangat marah ketika melihat tuhannya berada di tempat kotor tersebut. Tuhan itu lalu dicucinya hingga bersih kemudian diberi wangi-wangian.

Pada malam-malam berikutnya, Mu’adz bin Jabal dan Mu’adz bin Amr mengulangi hal yang serupa hingga akhirnya Amr Ibnu Al Jamuh merasa bosan. Ketika itu ia berkata pada sang tuhan Manaf : “Jika kamu benar-benar dapat memberikan kemamfaatan, berusahalah untuk mempertahankan dirimu sendiri…!”

Ternyata kejadian di malam-malam sebelumnya terulang kembali. Bahkan kali ini sang berhala terikat kuat dengan bangkai anjing. Dalam keheranan, kekecewaan, dan kemarahan, datanglah seorang bangan Madinah yang telah masuk Islam. Seraya menunjuk kepada tuhan yang tak berdaya tersebut, ia mengajak akal dan hati nurani Amr berdiskusi tentang Tuhan yang sesungguhnya, termasuk Muhammad Al Amin dan Al Islam. Singkat cerita, setelah beberapa saat Amr pun berbai’at kepada Rasulullah dan menjadi seorang muslim.

Selain sifatnya yang sangat pemurah dan dermawan, keistimewaan lain dari sahabat yang satu ini adalah tekadnya yang kuat untuk meraih surga kendatipun tubuhnya cacat. Yah, cacat itulah kelebihannya.

Amr Ibnu Al Jamuh pernah berujar : “Demi Allah, aku berharap kiranya dengan kepincanganku ini aku dapat merebut surga…!” Perkataan ini diucapkannya setelah usahanya untuk meyakinkan Rasulullah agar mengijinkannya turut serta dalam perang Badar gagal dan ketika datang berita kepadanya tentang perang Uhud yang sebentar lagi akan terjadi. Amr meminta dengan sangat kepada Rasulullah agar kali ini beliau memberinya kesempatan untuk turut serta dalam peperangan. Setelah permintaannya dikabulkan, ia pun mempersiapkan senjatanya. Dengan hati yang puas dan gembira ia berjalan berjingkat-jingkat, dan memohon kepada Allah : “Ya Allah, berilah aku kesempatan untuk menemui syahid, dan janganlah aku dikembalikan kepada keluargaku…!” Singkat cerita, Allah pun akhirnya mengabulkan permintaannya untuk gugur syahid membela agama Allah di medan Uhud.

Suatu pelajaran berharga dari kisah di atas adalah bahwa keislaman yang benar akan mampu membangkitkan rasa percaya diri, motivasi, semangat, dan harapan seseorang untuk meraih kesuksesan. Keempat faktor ini seringkali menjadi faktor penentu keberhasilan dalam melakukan sesuatu atau meraih cita-cita. Seorang yang cacat seperti Amr sebenarnya mendapat dispensasi (pengecualian) untuk tidak turut berperang, namun ternyata hal ini bukanlah kepuasan baginya.

Tentu ini bukan berarti penolakan Amr terhadap keringanan dari Allah yang Maha Pengasih kepada hamba-Nya yang cacat seperti Amr. Namun justru kecintaan kepada Allah dan surgalah yang telah menyelimuti dirinya. Sehingga ia merasa cacat tubuh bukanlah hambatan untuk berjihad. justru cacat inilah yang seolah menjadi pemicu semangat untuk melakukan yang terbaik untuk islam : Berjihad, gugur di jalan Allah dan meraih surga dengan kepincangan!

Amr Ibnul Jamuh: Kiranya dengan Kepincanganku ini.. Aku dapat Merebut Surga!

“Dengan cacat pincangku ini, aku bertekad merebut surga…!”

Ia adalah ipar dari Abdullah bin Amr bin Haram, karena menjadi suami dari saudara perempuan Hindun binti Amar; Ibnul Jamuh merupakan salah seorang tokoh penduduk Madinah dan salah seorang pemimpin Bani Salamah…

Ia didahului masuk Islam oleh putranya Mu’adz bin Amr yang termasuk kelompok 70 peserta bai’at ‘Aqabah. Bersama shahabatnya Mu’adz bin Jabal, Mu’adz bin Amr ini menyebarkan Agama Islam di kalangan penduduk Madinah dengan keberanian luar biasa sebagai layaknya pemuda Mu’min yang gagah perwira…

Telah menjadi kebiasaan bagi golongan bangan di Madinah, menyediakan di rumah masing-masing duplikat berhala-berhala besar yang terdapat di tempat-tempat pemujaan umum yang dikunjungi oleh orang banyak. Maka sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang bangan dan pemimpin Amru bin Jamuh juga mendirikan berhala di rumahnya yang dinamakan Manaf.

Putranya, Mu’adz bin Amr bersama temannya Mu’adz bin Jabal telah bermufakat akan menjadikan berhala di rumah bapaknya itu sebagai barang permainan dan penghinaan. Di waktu malam mereka menyelinap ke dalam rumah, lain mengambil berhala itu dan membuangnya ke dalam lubang yang biasa digunakan manusia untuk membuang hajatnya.

Pagi harinya Amr tidak melihat Manaf berada di tempatnya yang biasa, maka dicarinyalah berhala itu dan akhirnya ditemukannya di tempat pembuangan hajat. Bukan main marahnya Amr, lalu bentaknya: “Keparat siapa yang telah melakukan perbuatan durhaka terhadap tuhan-tuhan kita malam tadi…?” Kemudian dicuci dan dibersihkannya berhala itu dan dibelinya wangi-wangian.

Malam berikutnya, berdua Mu’adz bin Amr dan Mu’adz bin Jabal memperlakukan berhala itu seperti pada malam sebelumnya. Demikianlah pula pada malam-malam selanjutnya. Dan akhirnya setelah merasa bosan, Amar mengambil pedangnya lalu menaruhnya di leher Manaf, sambil berkata: ”Jika kamu betul-betul dapat memberikan kebaikan, berusahalah untuk mempertahankan dirimu … !”

Pagi-pagi keesokan harinya Amr tidak menemukan berhalanya di tempat biasa… tetapi ditemukannya di tempat pembuangan hajat, dan tidak sendirian, berhala itu terikat bersama bangkai seekar aniing dengan tali yang kuat. Selagi ia dalam keheranan, kekecewaan serta amarah, tiba-tiba datangtah ke tempatnya itu beberapa orang hangan Madinah yang telah masuk Islam. Sambil menunjuk kepada berhala yang tergeletak tidak berdaya dan terikat pada bangkai anjing itu, mereka mengajak akal budi dan hati nurani Amr bin Jamuh untuk berdialog serta membeberkan kepadanya perihal Tuhan yang sesungguhnya, Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi, yang tidak satupun yang menyamai-Nya. Begitupun tentang Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, orang yang jujur dan terpercaya, yang muncul di arena kehidupan ini untuk memberi bukan untuk menerima, untuk memberi petunjuk dan bukan untuk menyesatkan. Dan mengenai Agama Islam yang datang untuk membebaskan manusia dari belenggu segala macam belenggu dan menghidupkan pada mereka ruh Allah serta menerangi dalam hati mereka dengan cahaya-Nya.

Maka dalam beberapa saat, Amr telah menemukan diri dan harapannya… Beberapa saat kemudian ia pergi, dibersihkahnya pakaian dan badannya lalu memakai minyak wangi dan merapikan diri, kemudian dengan kening tegak dan jiwa bersinar ia pergi untuk bai’at kepada Nabi teiakhir, dan menempati kedudukannya di barisan orang-orang beriman.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa orang-orang seperti Amr ibnul Jamuh, yang merupakan pemimpin dan bangan di kalangan suku bangsanya, kenapa mereka sampai mempercayai berhala-berhala itu sedemikian rupa? Kenapa akal fikiran mereka tak dapat menghindarkan diri dari kekebalan dan ketololan itu? Dan kenapa sekarang ini, setelah mereka menganut Islam dan memberikan pengurbanan, kita menganggap mereka sebagai orang-orang besar?

Di masa sekarang ini, pertanyaan seperti itu mudah saja timbul, karena bagi anak kecil sekalipun tak masuk dalam akalnya akan mendirikan di rumahnya barang yang terbuat dari kayu lalu disembahnya, walaupun masih ada para ilmuwan yang menyembah patung.

Tetapi di zaman yang silam, kecenderungan-kecenderungan manusia terbuka luas untuk menerima perbuatan-perbuatan aneh seperti itu di mana kecerdasan dan daya fikir mereka tiada berdaya menghadapi arus tradisi kuno tersebut.

Sebagai contoh dapat kita kemukakan di sini, Athena. Yakni Athena di masa Perikles, Pythagoras dan Socrates! Athena yang telah mencapai tingkat berfikir yang menakjubkan, tetapi seluruh penduduknya, baik para filosof, tokoh-tokoh pemerintahan sampai kepada rakyat biasa, mempercayai patung-patung yang dipahat, dan memujanya sampai taraf yang amat hina dan memalukan! Sebabnya ialah karena rasa keagamaan di masa-masa yang telah jauh berselang itu tidak mencapai garis yang sejajar dengan ketinggian alam fikiran mereka.

Amr ibnul Jamuh telah menyerahkan hati dan hidupnya kepada Allah Rabbul-Alamin. Dan walaupun dari semula ia telah berbai’at pemurah dan dermawan, tetapi Islam telah melipatgandakan kedermawanannya ini, hingga seluruh harta kakayaannya diserahkannya untuk Agama dan kawan-kawan seperjuangannya.

Pernah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menanyakan kepada segolongan Bani Salamah yaitu suku Amr ibnul Jamuh, katanya: “Siapakah yang menjadi pemimpin kalian, hai Bani Salamah?” Ujar mereka: “Al-Jaddu bin Qeis, hanya sayang ia kikir…”. Maka sabda Rasulullah pula: “Apa lagi penyakit yang lebih parah dari kikir! Kalau begitu pemimpin kalian ialah si Putih Keriting, Amr ibnul Jamuh…!” Demikianlah kesaksian dari Rasulullah ini merupakan penghormatan besar bagi Amr! Dan mengenai ini seorang penyair Anshar pernah berpantun:

“Amr ibnul Jamuh membiarkan kedermawanannya merajalela, dan memang wajar, bila ia dibiarkan berkuasa, jika datang permintaan, dilepasnya kendali hartanya, silakan ambil, ujarnya, karena esok ia akan kembali, berlipat ganda!”

Dan sebagaimana ia dermawan membaktikan hartanya di jalan Allah, maka Amr ibnul Jamuh tak ingin sifat pemurahnya akan kurang dalam menyerahkan jiwa raganya! Tetapi betapa caranya? Kakinya yang pincang menjadi penghadang badannya untuk ikut dalam peperangan. Ia mempunyai empat orang putra, semuanya beragama islam dan semuanya satria bagaikan singa, dan ikut bersama Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dalam setiap peperangan serta tabah dalam menunaikan tugas perjuangan.

Amr telah berketetapan hati dan telah menyiapkan peralatannya untuk turut dalam perang Badar, tetapi putra-putranya memohon kepada Nabi agar ia mengurungkan maksudnya dengan kesadaran sendiri, atau bila terpaksa dengan larangan dari Nabi.

Nabi pun menyampaikan kepada Amr bahwa Islam membebaskan dirinya dari kewajiban perang, dengan alasan ketidakmampuan disebabkan cacad kakinya yang berat itu. Tetapi ia tetap mendesak dan minta diizinkan, hingga Rasulullah terpaksa mengeluarkan perintah agar ia tetap tinggal di Madinah.

Kemudian datanglah Masanya perang Uhud. Amr lalu pergi menemui Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, memohon kepadanya agar diizinkan turut, katanya: “Ya Rasulallah, putra-putraku bermaksud hendak menghalangiku pergi bertempur bersama anda. Demi Allah, aku amat berharap kiranya dengan kepincanganku ini aku dapat merebut surga!”

Karena permintaannya yang amat sangat, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam memberinya izin untuk turut. Maka diambilnya alat-alat senjatanya, dan dengan hati yang diliputi oleh rasa puas dan gembira, ia berjalan berjingkat-jingkat. Dan dengan suara beriba-iba ia memohon kepada Allah: “Ya Allah, berilah aku kesempatan untuk menemui syahid, dan janganlah aku dikembalikan kepada keluargaku!”

Dan kedua pasukan pun bertemulah di hari uhud itu. Amr ibnul Jamuh bersama keempat putranya maju ke depan menebaskan pedangnya kepada tentara penyeru kesesatan dan pasukan syirik.

Di tengah-tengah pertarungan yang hiruk-pikuk itu Amr melompat dan bersijingkat, dan sekali lompat pedangnya menyambar satu kepala dari kepala-kepala orang musyrik. Ia terus melepaskan pukulan-pukulan pedangnya ke kiri ke kanan dengan tangan kanannya, sambil menengok ke sekelilingnya, seolah-olah mengharapkan kedatangan Malaikat dengan secepatnya yang akan menemani dan mengawalnya masuk surga.

Memang, ia telah memohon kepada Tuhannya agar diberi syahid dan ia yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pastilah akan mengabulkannya. Dan ia rindu, amat rindu sekali akan berjingkat dengan kakinya yang pincang itu dalam surga, agar ahli surga itu sama mengetahui bahwa Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam itu tahu bagaimana caranya memilih shahabat dan bagaimana pula mendidik dan menempa manusia.

Dan apa yang ditunggu-tunggunya itu pun tibalah, suatu pukulan pedang yang berkelebat, memaklumkan datangnya saat keberangkatan, yakni keberangkatan seorang syahid yang mulia, menuju surga jannatul khuldi, surga Firdausi yang abadi!

Dan tatkala Kaum Muslimin memakamkan para syuhada mereka, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam mengeluarkan perintah:

“Perhatikan, tanamkanlah jasad Abdullah bin Amr bin Haram dan Amr ibnul Jamuh di makam yang satu, karena selagi hidup mereka adalah dua orang shahabat yang setia dan saling menyayangi!”

Kedua shahabat yang saling menyayangi dan telah menemui syahid itu dikuburkan dalam sebuah makam, yakni dalam pangkuan tanah yang menyambut jasad mereka yang suci setelah menyaksikan kepahlawanan mereka yang luar biasa.

Dan setelah waktu berlalu selama 46 tahun di pemakaman dan penyatuan mereka, datanglah banjir besar yang melanda dan menggenangi tanah pekuburan disebabkan digalinya sebuah mata air yang dialirkan Muswiyah melalui tempat itu. Kaum Muslimin pun segera memindahkan kerangka para syuhada.

Kiranya mereka sebagai dilukiskan oleh orang-orang yang ikut memindahkan mereka: Jasad mereka menjadi lembut, dan ujung-ujung anggota tubuh mereka jadi melengkung!”

Ketika itu Jabir bin Abdullah masih hidup. Maka bersama keluarganya ia pergi memindahkan kerangka bapaknya Abdullah bin Amr bin Haram serta kerangka bapak kecilnya Amr ibnul Jamuh… Kiranya mereka dapati kedua mereka dalam kubur seolah-olah sedang tidur nyenyak. Tak sedikit pun tubuh mereka dimakan tanah, dan dari kedua bibir masing-masing belum hilang senyuman manis alamat ridha dan bangga yang telah terlukis semenjak mereka dipanggil untuk menemui Allah dulu.

Apakah anda sekalian merasa heran? Tidak, janganlah merasa heran! Karena jiwa-jiwa besar yang suci lagi bertaqwa, yang mampu mengendalikan arah tujuan hidupnya, membuat tubuh-tubuh kasar yang menjadi tempat kediamannya, memiliki semacam ketahanan yang dapat menangkis sebab-sebab kelapukan dan mengatasi bencana-bencana tanah.

–ooOoo–

Iklan
Published in: on Oktober 12, 2007 at 6:07 am  Komentar Dinonaktifkan pada Amru bin Jammuh (wafat 3 H)  
  • %d blogger menyukai ini: