Khalid bin Walid (wafat 21 H/642 M)

Sahabat asal suku Makhzumi ini adalah bangan Arab yang dipercayakan memimpin pasukan Islam dalam penaklukan Persia dan Syam (Suriah dan sekitarnya). Beliau berhasil mengalahkan pasukan Romawi dalam perang Ajnadin dan Yarmuk, namun kemudian beliau meninggal di kota Homs.

Khalid dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam. Dia anggota suku Banu Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya benama Walid dan ibunya Lababah. Khalid termasuk keluarga Nabi yg sangat dekat. Maimunah bibi dari Khalid adalah istri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan yakni saudara sepupu. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua sepupu ini main adu gulat.Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan perawatan kaki Umar bisa diluruskan kembali dengan baik.

Ayah Khalid yg bernama Walid, adalah seorang pemimpin yg paling berkuasa diantara orang-orang Quraisy. Dia sangat kaya. Dia menghormati Ka’bah dengan perasaan yg sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yg menyediakan kain penutup Ka’bah. PAda masa ibadah haji dia memberi makan dengan cuma-cuma orang yg berkumpul di MIna. Ketiak orang Quraisy memperbaiki Ka’bah tidak seorangpun yg berani meruntuhkan dinding-dinding yg tua itu. Semua orang takut kalau jatuh & mati. Melihat suasana begitu, Walid maju ke depan dengan bersenjata sekop sambil berteriak ” O, Tuhan jangan marah kepada kami. Kami berniat baik terhadap rumah-Mu.


Nabi berharap dengan sepenuh hati agar Walid masuk ISlam. HArapan itu timbul karena Walid kesatria yg berani dimata rakyat, dikagumi dan dihormati banyak orang. Jika dia masuk Islam ratusan orang akan mengikutinya.Sebenarnya dalam hati kecilnya Walid merasa bahwa Al Qur’an adalah kalimat-kalimat Allah. Dia pernah mengatakan secara jujur dan terang-terangan bahwa ia tidak bisa pisah dengan keindahan dan kekuatan ayat-ayat suci itu. Ucapan itu memberi harapan bagi Nabi bahwa Walid akansegera masuk ISlam.Tetapi impian dan harapan itu tak pernah kesampaian. Kebanggan atas diri sendiri membendung bisikan hati nuraninya. Dia takut kehilangan kedudukannya sebagai pemimpin kaun Quraisy. Kesangsian itu menghalanginya menuruti hati nuraninya. Sayang sekali orang yg baik akhirnya mati bukan sebagai orang ISlam.

Kita tidak banyak mengetahui mengenai Khalid di masa kanak-kanak. Tapi satu hal yg pasti ayahnya oang berada. Dia mempunyai kebun buah-buahan yg membentang dari kota Mekah sampai TAif. Kekayaan ayahnylah yg membuat Khalid bebas dari kewajibannya. Dia lebih leluasa dan tidak usah belajar berdagang. Dia tidak perlu bekerja kehidupan tanpa ikatan memberi kesempatan Khalid untuk mengikuti kegemarannya yaitu adu tinju dan berkelahi. Saat itu pekerjaan dalam seni peperangan dianggap sebagai tanda seorang Satria. Panglima perang berarti pemimpin besar. Kepahlawanan adalah satu hal terhormat di mata rakyat.

Ayah Khalid dan paman-pamannya adalah orang terpandang, hal ini memberikan dorongan keras kepada Khalid untuk mendapatkan kedudukan terhormat. Satu-satunya permintaan Khalid adalah agar menjadi orang yg dapat mengatasi teman-temannya didalam hal adu tenaga. Sebab itulah ia menceburkan diri ke dalam seni peperangan dan seni beladiri. Ia juga membelajari keahlian berkuda, memanah dan memainkan pedang. Dia juga mencurhkan perhatiannya dalam hal memimpin angkatan perang. Bakat-bakatnya yg asli ditambah latihan yg keras, telah membina Khalid menjadi orang yg luar biasa. Kemahiran dan keberaniannya mengagumkan setiap orang. Pandangan yg ditunjuknya mengenai taktik perang menakjubkan, dengan gamblang orang dapat melihat bahwa ia akan menjadi orang yg ahli dalam seni militer.

Menentang Islam

Pada masa kanak-kanannya Khalid telah keliatan menonjol diantara temen-temennya. Dia mampu merebut tempat istemewa di hati rakyat. Lama kelamaan Khalid menanjak menjadi pemimpin suku Quraisy. Pada waktu itu orang-orang Quraisy sedang memusuhi Islam. Mereka sangat anti dan memusuhi agama Islam dan penganut-penganutnya. Meraka beranggapan kepercayaan baru itu berbahaya bagi kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy. Sebab itu mereka mengangkat senjata untuk menggempur orang-orang Islam. Tunas Islam harus dihancurkan sebelum berurat dan berakar. Khalid sebagai pemuda Quraisy yg berani dan bersemangat berdiri di barisan paling depan. Hal itu wajar dan seirama dengan kehendak alam. Sejak kecil Khalid ingin menjadi pahlawan Quraisy. Kesempatan ini diperolehnya dalam pertentangan dengan orang-orang Islam. Untuk membuktikan bakat dan kecakapannya, dia harus menonjolkan dirinya dalam segala pertempuran. Dia harus memperlihatkan pada sukunya kwalitasnya dalam berkelahi.

Peristiwa Uhud

Kekalahan kaum Quraisy dalam perang BAdar membut mereka menjadi kegila-gilaan karena menyesal dan panas hati. Rasa sombong dan kebanggan mereka sebagai suku Quraisy telah meluncur masuk lumpur kehinaan. Arang telah mencoreng muka orang-orang Quraisy.Dengan segera mereka membuat persiapan untuk membalas kekalahan mereka di perang Baar.

Sebagai pemuda Quraisy, Khalid bin Walid pun merasakan pahit getirnya kekalahan. Sebab itu ia ingin membalaskan dendam sukunya dalam perang Uhud. Khalid dan pasukannya bergerak ke Uhud dengan satu tekad menang atau mati. Orang-orang Islam dalam perang UHud mengambil posisi membelakangi bukit Uhud. Sungguhpun kedudukan pertahanannya baik, masih terdapat suatu kekhawatiran. Di bukit Uhud masih ada tanah genting dimana tentara Quraisy dapat menyerbu masuk pertahanan ISlam. Untuk menjaga tanah genting itu, Nabi menempatkan 50 orang pemanah terbaik. Nabi memerintahkan kepada mereka untuk bertahan mati-matian. Dan dalam keadaan bagaimanapun juga jangan meninggalkan pos masing-masing. Khalid bin Walid yg memimpin sayap kanan tentara Quraisy empat kali lebih besar jumlahnya dari pasukan ISlam. Tetapi mereka jadi ragu-ragu mengingat kekalahan mereka di perang Badar. KArena kekalahan itu hati mereka merasa kecil menghadapi orang-orang ISlam. Sungguhpun begitu, oang-orang Quraisy memulai pertempuran dengan baik. Tetapi setelah orang-orang Islam mendobrak pertahanan mereka, mereka gagal mempertahankan tanah yg mereka injak. Kekuatannya pun menjadi terpecah-pecah. Mereka lari cerai berai. Peristiwa Baar terulang lagi di Uhud.Saat-saat kritis sedang mengancam orang-orang Quraisy. Tetapi Khalid bin Walid tidak goncang dan sarafnya tetap membaja. Dia mengumpulkan kembali anak buahnya dan mencari kesempatan baik guna melakukan pukulan yg menentukan.
Melihat orang-orang Quraisy cerai berai, pemanah-pemanah yg berjaga ditanah genting tidak tahan lagi. Mereka tertarik dengan harta perang dan harta yg ada pada mayat-mayat orang Quraisy. Tanpa pikir panjang akan akibatnya, sebagian besar pemanah penjaga tanah genting meninggalkan posnya dan menyerbu ke lapangan.

Pertahanan tanah genting menjadi kosong. Khalid bin Walid segera melihat kesempatan baik ini. Dia menyerbu tanah genting dan mendesak masuk. Beberapa orang pemanah yg masih tinggal dikeroyok. Tanah genting dikuasai oleh pasukan Khalid dan mereka leluasa menggempur pasukan Islam dari belakang.
dengan kecepatan yg tak ada taranya Khalid masuk dari garis belakang dan menggempur orang Islam dipusat pertahanannya. Melihat KHalid telah masuk melalui tanah genting, orang-oang Quraisy yg bercerai berai berkumpul kembali dan mengikuti jejak Khalid menyerbu dari belakang.

Pemenang-pemenang beberapa menit yg lalu sekarang terkepung lagi dari segala penjuru dn situasi mereka menjadi gawat. Khalid bin Walid telah merubah kemenangan ISlam di Uhud menjadi kehancuran. Mestinya Quraisylah yg kalah dan tercerai berai tapi karena gemilangnya Khalid sebagai ahli siasat perang telah merubah kekalahan menjadi kemanangan. Dia menemukan lobang-lobang kelemahan pertahanan ISlam.
Hanya pahlawan Khalidlah yg dapat mencari saat-saat kelemahan lawannya. dan dia pula yg sanggup menarik kembali pasukannya yg sudah tercerai berai dan memaksanya bertempur kembali. Seni perangnya yg luar biasa ini yang mengungkap kekalahan Quraisy menjadi kemenangan.

Ketika Khalid bin Walid memeluk ISlam Rosulullah sangat bangga, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yg adpat digunakan membela ISlam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan peperangan Islam, KHalid bin Walid diangkat menjadi komandan perang dan menunjukan hasil egmilang atas segala upaya jihadnya. Betapapun hebatnya Khalid bin Walid di dalam medan perang pertempuran dengan berbagai luka yg menyayat badannya, namun ternyata kematiannya di atas tempat tidur. Betapa menyesalnya Khalid harapan untuk mati sahid di medan perang tidak tercapai dan Allah menghendaki kematiannya di atas tempat tidur sesudah perjuangannya membela Islam yang luar biasa itu. Demikianlah kekuasaan Allah. Manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.


–ooOoo–

Iklan
Published in: on Oktober 11, 2007 at 2:14 pm  Komentar Dinonaktifkan pada Khalid bin Walid (wafat 21 H/642 M)  
  • %d blogger menyukai ini: