Syaikh Abdullah Shalfiq : Perjalananku ke Indonesia

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، خالق الخلق أجمعين، ومقسم الأرزاق بين العباد من مسلمين وكافرين، وجاعل الفوز في الآخرة للموحدين المؤمنين.
والصلاة والسلام على المبعوث لجميع الثقلين، وإلى العرب والأعجمين، جعل شريعته مهيمنة على جميع شرائع الأولين، ودينه ناسخًا لجميع أديان المرسلين، من اتبع هديه وسنته أعزه الله وأعلى ذكره، ومن حاد عن أمره، وجانب هديه كتب عليه الصغار والذله … أما بعد:

Segala puji hanya bagi Allah Rabbul ‘Alamin, Pencipta seluruh makhluk, Yang membagikan rezki kepada segenap hamba-Nya, baik kaum muslimin maupun kaum kafir, dan Dia-lah yang menjadikan kesuksesan di akhirat bagi para muwahhidin mu`minin.

Shalawat dan Salam kepada Rasul yang diutus kepada bangsa jin dan manusia semuanya, kepada bangsa ‘Arab dan non Arab. Allah telah menjadikan syari’at beliau sebagai batu ujian bagi segenap syari’at sebelumnya, agama beliau sebagai penghapus seluruh agama para rasul sebelum. Barangsiapa yang mengikuti bimbingan dan sunnah beliau, maka akan Allah muliakan dia dan dan Allah tinggikan kedudukannya. Dan barangsiapa menentang perintah beliau, menjauhi bimbingan beliau maka Allah tetapkan atasnya kehinaan dan kerendahan.

Amma ba’d,

Huruf-huruf dan kata-kata ini aku torehkan pertama kali ketika aku berada di atas pesawat dalam perjalanan pulangku dari negeri Indonesia tatkala melewati Bandara Abu Dhabi Emirat Arab. Perjalanan tersebut memakan waktu tujuh jam di udara, kami menempuh jarak sekitar kurang lebih 7.000 km. Yaitu setelah aku turut serta dalam Daurah Ilmiyyah ke-4 di Ma’had Al-Anshar Yogyakarta (Jogja) Indonesia. Turut serta pula dalam acara tersebut saudaraku Asy-Syaikh DR. ‘Abdullah bin ‘Abdirrahim Al-Bukhari, profesor hadits di Fakultas Hadits Syarif Universitas Islam dan saudaraku Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi Azh-Zhafiri, yang sekarang sedang menempuh program doktoral di Universitas Islam Madinah.

Selama waktu yang panjang dalam perjalanan, yang aku habiskan untuk membaca dan menulis, terbayang dalam pikiran dan benakku terhadap semua yang aku saksikan dan aku dengar semenjak safarku hingga kembaliku. Maka sebagian darinya aku tuliskan, dalam rangka memberikan dorongan kepada ikhwah Indonesia atas aktivitas yang mereka lakukan selama ini berupa dakwah dan semangat menyebarkan ilmu dan sunnah. Sekaligus sebagai dorongan bagi saudara-saudaraku para masyaikh dan para thullabul ‘ilmi untuk membantu mereka dan mengunjungi mereka. Serta dalam rangka menampakkan kebaikan yang telah aku saksikan, berupa semangat yang besar dalam menuntut ilmu dan mengikuti as-sunnah, yang itu membuat senang hati seorang mukmin di satu sisi, dan membangkitkan semangat bagi para penuntut ilmu dan para da’i sunnah di sisi lain. Disamping juga dalam rangka menjelaskan sikap yang wajib atas seorang muslim terkait fenomena-fenomena kemungkaran yang menyelisihi syari’at Allah Yang Maha Bijaksana.

Saya memohon kepada Allah agar mengaruniakan kepada kita kekokohan di atas Islam dan di atas Sunnah, melindungi kita dari kejelekan fitnah baik yang tampak maupun tidak, serta menjadikan urusan kaum muslimin di setiap tempat menjadi baik.

Kaum muslimin pada hari ini di setiap tempat — kecuali yang dirahmati oleh Rabb-ku dan jumlah mereka sedikit – berada dalam kondisi yang menyedihkan, yang sebenarnya mereka sangat membutuhkan pemimpin yang adil dan membimbing (mereka), takut kepada Allah dalam urusan kaum muslimin, serta sangat semangat membela Islam dan Syari’at-Nya.

والله المستعان ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم.

Ditulis oleh hamba yang faqir (sangat butuh) kepada Rabbnya

‘Abdullah bin Shalfiq Al-Qasimi Azh-Zhafiri

Awal mula ditulis di antara langit dan bumi, antara Jakarta dan Abu Dhabi

Sore hari Ahad, bertepatan dengan 9/8/1429 H

Muqaddimah

Kisah indah ini bermula dari telepon para ikhwah salafiyyin di Indonesia, meminta kepadaku untuk hadir dalam Daurah Ilmiah ke-4 yang mereka adakan, pada tahun ini (1429 H), yaitu pada awal Sya’ban selama 8 hari. Setelah bermusyawarah aku pun beristikharah kepada Allah. Akhirnya aku putuskan untuk berangkat.

Aku memilih untuk mengajarkan Kitabul ‘Ilmi dari kita Shahih Al-Bukhari, dan Kitabus Sunnah dari kita Sunan Abi Dawud. Kedua kitab tersebut, termasuk kitab yang aku baca (pelajari) di hadapan para masyaikh kami yang mulia ketika mereka ikut andil pada Daurah Ilmiah pertama yang diadakan di daerah Hafrul Bathin, Masjid Jami’ Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallah ‘anhuma. Daurah tersebut dilaksanakan pada awal bulan Rabi’uts Tsani tahun 1422 H. Kitabus Sunnah aku membaca (mempelajari)nya di hadapan Fadlilah Syaikhina Al-Muhaddits Mufti, Alim, dan Ahli Hadits di bagian selatan Kerajaan Saudi Arabia Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahullah rahmatan wasi’an. Sedangkan Kitabul ‘Ilmi baca (pelajari) di hadapan Fadhilatu Syaikhina ‘Ubaid bin ‘Abdillah Al-Jabiri hafizhahullah.

Aku memulai perjalanan ilmiah ini pada hari Sabtu awal Sya’ban dari bandara Kuwait, yang aku telah memesan tiket perjalan dari sana. Kemudian transit ke bandara Abu Dhabi, lalu langsung ke bandara Jakarta, Indonesia. Perjalanan ini berlangsung selama tujuh 7 jam. Lalu menuju bandara Yogjakarta (Jogja) yang merupakan akhir perjalanan. Tiba pada malam Senin, tanggal 3 Sya’ban 1429 H. Dalam perjalanan ini aku ditemani oleh Al-Akh Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi Azh-Zhafiri hafizhahullah.

Sejak malam itu dimulailah sejumlah pelajaran dan muhadharah, terkhusus oleh Al-Akh Asy-Syaikh Khalid. Pelajaran dan muhadharah berlangsung hingga hari Sabtu, tanggal 8 Sya’ban 1429 H, yang dibagi antara kami bertiga : Asy-Syaikh DR. ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim Al-Bukhari, n Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi Azh-Zhafiri, dan aku sebagai penulis baris-baris ini (yakni Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Shalfiq Azh-Zhafiri).

Di sela-sela daurah tersebut, kami bertemu dengan saudara-saudara kita fillah dari para ikhwah Ahlus Sunnah, duduk bersama mereka, melihat mereka, dan mengetahui berita mereka yang mendinginkan dada orang yang beriman, membangkitkan harapan kepada Allah bahwasa Dia-lah penolong agama-Nya dan yang memenangkan sunnah Nabi-Nya meskipun para pembuat tipu daya dan makar dari kalangan para syaithan -baik syaithan manusia maupun jin- dan dari kalangan orang-orang kafir dan komunis, serta juga para ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu.

Pembahasanku pada baris-baris ini terbagi dalam lima pembahasan, yaitu:

1. Tentang ikhwah (asatidzah) Ahlus Sunnah Salafiyyin panitia penyelenggara daurah dan para pengampu dakwah di sana.

2. Tentang Daurah Ilmiah

Keduanya merupakan tujuan utama dari perjalanan.

3. Tentang risalah-risalah yang selesai dibacakan selama perjalanan, serta faidah-faidah ilmiah yang terdapat di dalamnya tambahan tambahan keterangan yang penting.

4. Tentang kondisi negeri tersebut, dan berbagai kenikmatan yang Allah berikan padanya berupa pemandangan yang indah dan tanda-tanda kebesaran-Nya yang menakjubkan.

5. Tentang apa yang aku lihat di sela-sela perjalanan ini berupa maksiat, penyimpangan, penentangan terhadap Allah, dan terang-terangan dalam melakukan kemaksiatan kepada Allah, serta apa yang menjadi kewajiban bagi kaum muslimin, baik raykat maupun pemerintahnya, dalam menghadapi berbagai permasalahan tersebut.

Dengan memohon kepada Allah agar memberikan kekokohan kepada kita di atas Islam dan As-Sunnah, serta menjadikan kita sebagai pemberi petunjuk yang mendapatkan hidayah.

Pertama :

Para Ikhwah (Asatidzah) Ahlus Sunnah As-Salafiyyin

Panitia Daurah Ilmiah dan Pengampu Dakwah Salafiyyah

di Negeri Indonesia

Sungguh kami telah berjumpa – sesampainya kami di negeri Islam ini (negeri Indonesia)- dengan saudara-saudara kami, Ahlus Sunnah As-Salafiyyin. Kami saksikan kebenaran dalam berpegang kepada As-Sunnah kejujuran dalam beragama, istiqamah di atas manhaj salafi, serta semangat dalam thalabul ilmi dan berdakwah di jalan Allah, kami menilainya demikian – dan kami tidak bermaksud memberikan tazkiyyah di hadapan Allah untuk seorang pun – .

Sebagian di antara mereka ada yang pernah belajar di hadapan para masyaikh dan para ‘ulama kita, seperti Asy-Syakh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahumallah, atau seperti Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahumallah. Sebagian yang lain adalah para alumnus Al-Jami’ah Al-Islamiyyah (Universitas Islam) Madinah, dan sebagian yang lain, yang masih belum mendapat kesempatan seperti ini, tetap bersemangat untuk menseriusi kitab-kitab dan kaset-kaset para masyaikh tersebut, baik para ‘ulama maupun para penuntut ilmu dari kalangan Ahlus Sunnah.

Lebih dari sekadar berguru, aku telah mengetahui pada mereka seringnya mereka berziarah dan bermusyawarah dengan para ‘ulama. Paling seringnya adalah bermusyawarah dengan Asy-Syaikh Rabi’ Al-Madkhali – hafizhahullah – yang beliau ini memiliki peran besar dalam menyatukan kalimat dan barisan mereka.

Sungguh itu merupakan di antara bukti-bukti dalam mengetahui jalan beragama seseorang, apakah dia berjalan di atas sunnah atau di atas sesuatu yang menyelisihinya. Ruh-ruh itu adalah tentara yang berbaris, ruh-ruh yang saling cocok akan bisa bersatu, dan ruh-ruh yang saling bertentangan akan berselisih. Para ‘ulama salaf dahulu memandang bahwa bergaulnya seseorang dengan ahlus sunnah, mencintainya, dan bersemangat dalam mengambil ilmu darinya serta bermusyawarah dengannya sebagai tanda bagi manhaj seseorang.

Lebih dari itu, mereka (para ‘ulama salaf) memiliki pengetahuan tentang manhaj-manhaj baru, kelompok-kelompok hizbiyyah, waspada darinya, dan mentahdzirnya.

Ini merupakan prinsip yang sangat penting bagi seorang muslim, terutama bagi kalangan penuntut ilmu atau para da’i di jalan Allah, yaitu hendaknya ia mengetahui kejelekan dan para pengusungnya agar ia waspada darinya. Sungguh Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallah ‘anhuma berkata:

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي

Dahulu orang-orang bertanya tentang kebaikan, namun aku bertanya tentang kejelekan karena khawatir (kejelekan tersebut) akan menimpaku.”

Sungguh benar ucapan sang penyair:

عَرَفْتُ الشَّرَّ لاَ لِلشَّرِّ لّكِـْن لِتَوَقِّــّّيهِ

وَمَنْ لاَ يَعْرِفِ الشَّرَّ مِنَ الْخَيْرِ يَقَعْ فِيهِ

Aku mempelajari kejelekan bukan untuk melakukannya, akan tetapi untuk aku menghindarinya

Barangsiapa yang tidak bisa membedakan kejelekan dari kebaikan maka ia akan terjatuh ke dalamnya

Demikianlah yang aku saksikan pada diri mereka. Itu merupakan di antara hasil tarbiyah para ‘ulama rabbani. Sesungguhnya ‘ulama rabbani adalah ‘ulama yang mentarbiyah murid-muridnya dengan tarbiyah salafiyyah, yang dengannya terbedakan dengan seluruh manusia. Maka ‘ulama rabbani tersebut mengumpulkan antara penanaman prinsip syari’at dan aqidah, dengan peringatan terhadap kejelekan dan bid’ah serta para pelakunya.

Inilah keistimewaan para ‘ulama yang telah disebutkan di atas. Dan hal ini demi Allah merupakan bentuk nasehat bagi seluruh kaum muslimin dan para penuntut ilmu. Adapun sikap mengambil satu sisi dan mengabaikan sisi lainnya, maka cara yang demikian ini yang akan membuat si murid berbuat yang berlebihan pada satu kesempatan, atau berbuat menyepelekan pada kesempatan yang lain, dan akan menjadikannya tidak berjalan dia pondasi ilmiah manhajiyyah. Cara demikian membuat banyak kalangan muda berada dalam alam pikiran yang kacau. Tidak mampu membedakan mana yang Ahlus Sunnah dan mana yang Ahlul Bid’ah, di samping berada dalam aqidah yang lemah. Ia bingung dalam memberikan loyalitasnya, sehingga tidak mengetahui siapa yang layak diberi loyalitas dan siapa yang harus dimusuhi. Tidak mengetahui siapa yang harus ia cintai dan siapa yang harus ia benci. Bahkan ada di antara mereka yang menjadi berseberangan dengan kewajiban-kewajiban imaniyyah, yaitu mencintai ahlus sunnah dan membenci ahlul bid’ah. Yang demikian kami saksikan pada sebagian murid-murid para masyaikh yang tidak mau memperhatikan sikap waspada terhadap kebid’ahan dan para pengusungnya, hizbiyyah dan berbagai simbolnya. Mereka tidak memberikan perhatian sama sekali, yang menyebabkan timbulnya di tengah-tengah mereka orang-orang yang seperti itu. Bahkan durhaka dan meninggalkan jalan para masyaikh (guru) mereka.

Aku katakan :

Sungguh aku telah menyaksikan pada para ikhwah tersebut (yakni para asatidzah penyelenggara/panitia Daurah Ilmiyyah Nasional) adanya adab-adab yang tinggi, akhlak-akhlak yang mulia, jiwa-jiwa yang baik, kepeduliaan yang tinggi, ta’awun yang kuat sesama mereka dalam rangka menyebarkan sunnah dan tauhid, serta manhaj salafi di tengah-tengah negeri tersebut yang telah banyak didominasi oleh kalangan Asy’ariyyah dan Shufiyyah, bahkan kelompok-kelompok hizbiyyah.

Sungguh tidak berlebihan bila aku katakan, bahwa apa yang aku saksikan adalah sesuatu yang tidak ada bandingannya. Aku belum pernah melihat yang seperti itu. Belum pernah aku menyaksikan jumlah yang begitu besar, mendatangi Daurah Umum yang diterjemahkan, jumlah mereka lebih dari 10.000 orang. Atau jumlah besar mereka yang hadir pada pelajaran Daurah Khusus (khusus untuk para asatidzah dan para duat) yang mendekati 500 orang. Mereka datang dari berbagai penjuru dan kepulauan negeri Indonesia dengan membawa semangat untuk menyebarkan sunnah dan mencari ilmu. Bahkan aku diberi tahu bahwa di sana masih ada lagi sejumlah para penuntut ilmu yang juga berkeinginan menghadiri Daurah Khusus, namun karena tempat yang tidak mencukupi untuk menampung jumlah mereka yang besar, maka panitia membatasi dengan sebagiannya saja.

Mereka (para asatidzah penyelenggara/panitia) telah mengadakan daurah-daurah tersebut dengan swadaya mereka sendiri, di tengah-tengah segala kekurangan. Namun mereka tidak mau menerima sumbangan dana bersyarat dari sebagian organisasi/yayasan yang memiliki tujuan yang samar dan tanzhim hizbi, yang tidaklah tanzhim tersebut hadir pada suatu negeri atau suatu dakwah kecuali pasti akan memecah belah dakwah tersebut dan menimbulkan permusuhan dan saling benci sesama pelaku dakwah. Walahaula wala Quwwata illa billah.

Upaya saling bekerjasama dan bantu membantu yang membuahkan hasil ini, dan cara yang sukses ini, tidak lain merupakan buah dari tarbiyah para ulama dan senantiasa berhubungan dengan mereka. Hal itu membuahkan dalam diri mereka kesinambungan dalam berusaha di atas sikap pertengahan dan lapang, serta hanifiyyah (kelurusan) yang jelas.

Sungguh orang-orang seperti mereka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan bantuan, pertolongan, dan kerjasama dalam menjalankan dakwah mereka untuk menyebarkan tauhid dan Sunnah serta manhaj salafi di tengah-tengah negeri yang penduduknya telah didominasi oleh aqidah Asy’ariyyah dan tarekat Shufiyyah, bahkan kelompok-kelompok hizbiyyah dan takfiry, serta aliran-aliran dan agama-agama yang bermacam-macam.

Semoga Allah memberikan sebaik-baik balasan kepada para ikhwah pengampu dakwah dan Daurah Ilmiah ini. Dan semoga Allah memperbesar pahala atas perkara yang mereka jalankan, berupa pelaksanaan amanat ini dan menyebarkan risalah ini.

Di antara para ikhwah (asatidzah) tersebut yang aku jumpai adalah Al-Ustadz Luqman Ba’abduh, Al-Ustadz Abal Mundzir, Al-Ustadz ‘Askari, Al-Ustadz Hannan Bahannan, Al-Ustadz Qamar Su’aidi, Al-Ustadz Usamah Faishal Mahri, Al-Ustadz ‘Abdush Shamad Bawazir, Al-Ustadz Ahmad Khadim, Al-Ustadz Ruwaifi’, Al-Ustadz ‘Abdul Mu’thi, Al-Ustadz ‘Abdul Bar, Al-Ustadz Ja’far Shalih, dan selain mereka yang tidak aku ingat nama-namanya. Sebagaiman pula aku tidak lupa dengan salah seorang pemuda bernama Muhammad Fuad yang telah melakukan penerjemahan banyak kitab-kitab salafiyyah dari bahasa ‘Arab ke dalam bahasa Indonesia.

Sebagai tambahan keterangan, bahwasanya ia (Muhammad Fuad) dulunya adalah Cina kafir, kemudian masuk Islam dan benarlah Islamnya. Kemudian Allah memberikan karunia kepadanya berupa mengenal manhaj salafi dan aqidah sunni. Allah memberikan manfaat melalui dirinya kepada Islam dan kaum muslimin. Maha Suci Allah yang telah mengeluarkan yang hidup dari yang mati. Mengeluarkan dari kegelapan kepada cahaya. Ia memberikan hidayah ke ash-shirath al-mustaqim bagi siapa yang ia kehendaki. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Di antara perkara yang membuatku terkejut adalah ketika aku melihatnya sebagai penerjemah – dan aku bersyukur kepada Allah atas hal ini- kitabku Sallu As-Suyuf wa Al-Asinnah ‘ala Ahli Al-Ahwa’ wa Ad’iyyah As-Sunnah yang mendapatkan pendahuluan dari Syaikh kami, Doktor Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, seorang ‘ulama yang memiliki perjuangan yang penuh berkah dalam membela rekan-rekan dan murid-muridnya, serta anak-anak didiknya dari kalangan Ahlus Sunnah di setiap tempat. Segala puji bagi Allah yang dengan-Nya sempurnalah setiap amal shalih. Dan aku memohon kepada-Nya agar memberikan rizqi kepada kita berupa keikhlasan dalam berucap dan beramal, menjadikan kita beramal dalam ketaatan-Nya dan membela agama dan sunnah Nabi-Nya, dan agar Dia menjadikan hal ini semua termasuk dalam timbangan amal-amal kebaikan, baik yang berupa kitab-kitab, pengantar, penerjemahan, maupun penerbitan, pada hari yang sudah tidak lagi bermanfaat lagi harta dan anak kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.

Kedua :

Daurah Ilmiah Asatidzah Di Yogyakarta (Jogja)

Daurah Ilmiah tahunan yang diselenggarakan oleh ikhwah salafiyyin di Indonesia, tepatnya di kota Yogyakarta (Jogja), termasuk daurah-daurah yang dengannya Allah memberikan manfaat kepada kaum. Daurah tersebut berhasil menghidupkan kembali di tengah-tengah para thullabul ‘ilmi (penuntut ilmu) kebiasaan para as-salafush shalih melakukan rihlah (perjalanan) untuk menuntut ilmu, semangat mempelajari ilmu, dan berakhlak dengan akhlak para ahli ilmu.

Daurah ini dihadiri oleh para thullabul ‘ilmi (penuntut ilmu) dari seluruh penjuru Indonesia dan kepulauan-kepulauannya yang banyak. Sebagian mereka datang dengan naik kapal melewati lautan dan pulau-pulau. Sebagian yang lain dengan mengendarai pesawat terbang. Sebagian yang lain dengan mobil-mobil dan kereta api. Mereka menempuh jarak yang mencapai ribuan kilo meter. Mereka harus melewati gunung-gunung, lembah, dan sungai-sungai.

Yang aku saksikan pada mereka perilaku yang baik, semangat untuk menerapkan sunnah pada penampilan mereka dan shalat mereka, serta semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu.

Aku melihat mereka dalam keadaan masjid sudah penuh sesak oleh mereka. Mereka berkumpul di sekitar meja pengajar. Hampir-hampir tidak ada tempat kosong di antara mereka. Jumlah mereka mencapai 500 orang!!

Pemandangan yang seperti ini akan membuat pandangan mata menjadi sejuk, jiwa menjadi bahagia, harapan kepada Allah semakin kuat, dan harapan mendapakan pertolongan dari-Nya bagi para muwahhidin. Allah pasti akan memenangkan agama-Nya walaupun orang-orang musyrik, kafir, dan munafik membencinya, dan meskipun mereka mengupayakan berbagai makar untuk menyerang Islam dan para pemeluknya, berusaha sungguh-sungguh untuk menyesatkan dan menghalangi mereka dari agama mereka yang benar dengan berbagai macam makar dan tipu daya, maka sesungguhnya Allah akan menggagalkan tipu daya dan makar mereka.

وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللهُ، وَاللهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ (30) [الأنفال/30 ]

Mereka melakukan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. [Al-Anfal : 30]

Meskipun mereka berusaha dengan keras untuk merubah fitrah kaum muslimin, menanamkan fitnah sesama mereka, dan memasukkan bid’ah dan khurafat kepada mereka, serta menenggelamkan mereka dengan berbagai bentuk syahwat, maka sesungguhnya Allah Yang akan memadamkan itu semua. Dia yang akan menjadikan tipu daya mereka kembali kepada leher-leher mereka. Dia akan mengeluarkan dari keturunan kaum muslimin orang yang mengibarkan bendera as-sunnah, mendakwahkan Islam yang benar dan bersih dari kotoran syirik dan bid’ah, berakhlak dengan Islam dan pondasi-pondasinya yang agung. Maha Benar Allah, Dzat Yang Maha Mulia dan Maha Hikmah ketika Ia berfirman:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (8) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (9) [الصف/8، 9]

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya”. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa hidayah (ilmu yang bermanfaat) dan agama yang benar (amal shalih) agar Dia memenangkannya (agama tersebut) di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci. [Ash-Shaf : 8-9]

Allah ‘Azza wa Jalla telah memberikan anugerah (barakah) dalam keikutsertaan kami dalam daurah ini, yaitu dengan menjelaskan Kitabul ‘Ilmi dari kitab Shahih Al-Bukhari secara lengkap, demikian pula dengan menjelaskan awal Kitabus-Sunnah dari kitab Sunan Abi Daud. Kedua kitab ini di antara kitab pegangan yang diajarkan dalam Daurah Ilmiyyah pertama di Masjid Jami’ Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallah ‘anhuma, Hafrul Bathin, sebagaimana telah lalu.

Sedangkan saudaraku, Asy-Syaikh DR ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim Al-Bukhari ikut andil dengan mengajarkan manzhumah Al-Baiquniyyah dan Kitabun-Nikah dari kitab Manhajus Salikin karya Al-‘Allamah As-Sa’di. Sebagaimana pula saudaraku Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi Azh-Zhafiri mengajarkan Kitab Fafhul Rabbil Bariyyah bi Talkhis Al-Hamawiyyah.

Ditambah lagi dengan penyampaian pelajaran yang sukses, disampaikan di sejumlah muhadharah yang dilaksanakan di Masjid Jami’ lain di wilayah yang sama (yang beliau maksud adalah Daurah Umum di Masjid Agung Bantul – Yogyakarta) yang jarak tempuhnya dari pusat pengadaan Daurah Ilmiah Asatidzah adalah sekitar 45 menit.

Penyampaian muhadharah tersebut (Daurah Umum) dilakukan secara bergantian antara kami bertiga. Sebagaimana pula aku dan Asy-Syaikh Khalid menyampaikan dua kali muhadharah ketika kami kembali ke Jakarta. Tema muhadharah yang aku sampaikan adalah berkaitan dengan hak Allah atas para hamba, yaitu tauhid, serta penjelasan buahnya ketika di dunia dan di akhirat dan penjelasan bahwasanya buah tersebut hanya akan terwujud bagi merkea yang mengikuti petunjuk Nabi dan menerapkan sunnah beliau, baik dalam ibadah maupun dalam aqidah. Sebagaimana pula Allah telah memberikan taufik dengan aku bisa menyampaikan khutbah Jum’at dengan tema ini pula. Teriring do’a memohon kepada Allah untuk seluruh kalangan agar diberi keikhlasan dan diterima amalannya.

Daurah Ilmiah terlaksana selama satu pekan. Masa-masa daurah tersebut menjadi waktu yang paling indah, karena kami menghabiskannya dalam suasana keilmuan bersama para ikhwah yang memiliki semangat tinggi. Semangatmu menjadi pendorong untuk menyampaikan, membahas, serta mendiskusikan berbagai masalah ilmiyyah.

Waktu-waktu pelajaran mayoritasnya pada siang hari dan seusai shalat berjama’ah :

– setelah shalat Shubuh selama dua jam,

– jam 09.30 pagi hingga menjelang Zhuhur,

– setelah shalat Zhuhur,

– setelah shalat ‘Ashar,

– setelah shalat ‘Isya’ dua jam.

Adapun waktu setelah Maghrib adalah waktu istirahat untuk para pelajar dan menyantap makan malam.

Pada kesempatan ini, aku ingin memberikan dorongan kepada para masyayikh dan para thullabul ‘ilmi (penuntut ilmu) untuk berta’awun bersama para ikhwah tersebut yang telah membukakan bagi kita pintu yang lebar untuk mengajar dan menyebarkan ilmu, sunnah, tauhid, dan berbagai muhadharah di hadapan jumlah hadirin yang begitu besar. Allah Yang memberikan taufik dan petunjuk kepada jalan yang lurus.

Ketiga :

Beberapa Risalah yang Selesai Dibaca Selama Perjalanan
Beserta Faidah-Faidah Ilmiah
atau Penambahan Catatan Kaki yang Penting

Karena perjalanan antara Jakarta dan Abu Dhabi yang sangat jauh, yaitu membutuh waktu perjalanan selama tujuh jam (pesawat), maka aku menghabiskannya untuk membaca dan menulis. Di antara risalah yang tertuang adalah risalah yang berjudul Al-Maqalat Asy-Syar’iyyah (Makalah-makalah Ilmiah) karya rekan kami Asy-Syaikh ‘Abdullah Al-Bukhari dengan pendahuluan dari dua orang syaikh yang mulia, yaitu Asy-Syaikh Ahmad An-Najmi rahimahullah dan Asy-Syaikh Zaid bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah.

Risalah tersebut terkumpul dalam tiga jilid, beliau memberikannya kepadaku sebagai hadiah pada daurah kali ini. Beliau menulis dalam risalah tersebut sejumlah pembahasan yang bagus. Asy-Syaikh An-Najmi menyatakan tentang pembahasan tersebut : “Pembahasan-pembahasan ini dalam pandanganku adalah untaian permata dan cahaya putih. Penulis telah mendapatkan taufik dalam memilih dan dalam menyampaikannya.” Beliau juga berkata : “Penulis (Asy-Syaikh ‘Abdullah Al-Bukhari) telah mengumpulkan perbahasan-pembahasan yang membangunkan akal-akal yang tidur dan hati-hati yang lalai.”

Diantara apa yang telah aku baca dari pembahasan dan makalah ini adalah tulisan tentang pembelaan yang benar tentang seorang tokoh pembawa dan pembela bendera as-sunnah, yaitu Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali. Pada awal pembahasan membicarakan masalah keutamaan para ‘ulama dan penjelasan tentang sebagian hak mereka yang harus ditunaikan oleh umat ini terhadap para ‘ulama. Kemudian beliau (Asy-Syaikh Al-Bukhari) membahas tentang Asy-Syaikh A-Mujahid Al-‘Allamah Al-Muhaddits Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali dan pembelaannya terhadap as-sunnah, serta pujian-pujian para ulama atasnya. Di antaranya beliau menyebutkan pujian dari dua orang ‘ulama besar, yaitu Asy-Syaikh Al-Muhaddits Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan Asy-Syaikh Al-Faqih Al-Ushuli Al-Mufassir Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin – semoga Allah merahmati keduanya-.

Ketika telah selesai membaca risalah yang indah dan pembahasan yang bagus ini, aku memberikan tambahan terhadap pembahasan tersebut dalam bentuk catatan kaki. Aku katakan padanya :

Segala puji bagi Allah, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah. Wa ba’d : Ini adalah makalah yang baik, ditulis oleh saudara kami Asy-Syaikh ‘Abdullah Al-Bukhari tentang pembelaan terhadap Asy-Syaikh Al-Allamah Al-Mujahid Rabi’ Al-Madkhali. Risalah ini mencapai puncak keindahan. Hanya saja penulis tidak menampilkan sikap-sikap syaikh kami (Asy-Syakh Rabi’) yang bisa dirasakan dalam memberikan nasehat kepada pihak lain dan kesabaran beliau menghadapi mereka, hingga tampak dari mereka sikap rujuk. Apabila ternyata tetap tidak mau rujuk, maka beliau pun membantahnya. Hal ini sebagaimana terjadi terhadap ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq, Salman Al-‘Audah, Abul Hasan Al-Ma’ribi, dan selain mereka.

Demikian pula dengan sikap beliau terhadap para salafiyyin di seluruh tempat. Musyawarah-musyawarah dan nasehat yang beliau berikan. Berapa banyak didapatkan dari musyawarah, nasehat, dan arahan penghancuran kebatilan dan bid’ah-bid’ah, tampaknya As-Sunnah dan orang-orang yang berpegang dengannya, serta kemenangan kaum muslimin dalam menghadapi orang-orang kafir.

Sebagaimana terjadi pada kaum muslimin di salah satu kepulauan Indonesia, ketika kaum Nashrani dengan tiba-tiba menyerang kaum muslimin di kepulauan tersebut, yaitu pada hari raya ‘Idul fitri. Kaum nashrani menyerang kaum muslimin dengan serentak. Mereka berhasil membunuh sejumlah besar kaum muslimin. Sehingga tidak ada yang bisa dilakukan oleh kaum muslimin di Indonesia kecuali berkumpul dan bersepakat untuk memerangi mereka. Mereka menyeberangi lautan dengan kapal untuk menuju kepulauan tersebut dengan jumlah mencapai 5000 orang. Mayoritas mereka adalah salafiyyin. Kemudian mereka menyerang kaum nashara dan berhasil membunuh dari mereka sejumlah ribuan orang di medan tempur yang berlangsung selama berbulan-bulan. Hasil dari upaya ini (jihad melawan orang-orang nashara-pen) memberikan hasil berupa pelajaran bagi kalangan nashrani, yang dengannya mulialah kaum muslimin dan menjadi hinalah orang-orang kafir. Semua usaha ini (melawan kaum nashara-pen) mayoritasnya adalah karena mengikuti dan arahan dari Asy-Syaikh Al-Mujahid Rabi’ Al-Madkhali dan Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muqbil Al-Wadi’i, ketika pemerintah dalam keadaan tidak merespon untuk melakukan perbaikan keadaan.

Yang seperti ini, demi Allah, adalah jihad yang hakiki, yaitu untuk menegakkan kalimat Allah dan membela kaum muslimin. Adapun perang yang dilakukan oleh ahlul bid’ah dan kalangan takfiri, Al-Qaeda (Usamah) bin Laden dan (Aiman) Azh-Zhawahiri, yang mereka menamakannya sebagau jihad, pada hakekatnya adalah kejahatan terhadap Islam dan kaum muslimin serta memberikan peluang kepada kaum kafir untuk mencekik leher kaum muslimin dan merampas wilayah mereka. Mayoritas perang mereka – yaitu kalangan takfiri dan Al-Qaeda – semenjak awalnya dan masih terus berlanjut, adalah untuk menyerang kaum muslimin, sebagaimana telah terjadi di Afghanistan, penyerangan mereka terhadap Ahlus Sunnah dan pembunuhan yang mereka lancarkan terhadap Asy-Syaikh Jamilurrahman As-Salafi –rahimahullah-.

Sebagaimana pula yang terjadi di Aljazair. Mereka membunuhi kaum muslimin, mengeluarkannya dari masyarakat muslimin, dan mengkafirkannya. Itu semua dengan arahan dari orang-orang yang disebutkan sebagai dai-dai kebangkitan.

Sebagaimana pula terjadi di Iraq, mereka menumpahkan darah, berbuat lancang terhadap orang-orang yang tidak berdosa, masuk ke dalam masjid-masjid dan membunuh orang-orang yang shalat. Itu semua mereka lakukan atas nama jihad!! Inilah klaim mereka!!

Bahkan sebagaimana terjadi pada negeri kami, yaitu Kerajaan Saudi Arabia, negeri tahuid dan sunnah. Terjadi berbagai pengeboman dan pembunuhan orang-orang yang tidak bersalah, dilakukan oleh Al-Qaeda dan para pengekornya dari kalangan takfiri dan Quthbiyyin, atau dari kalangan orang-orang yang mendapatkan tarbiyah dari pendidikan Jama’ah Tabligh.

Aku katakan : betapa banyak Allah telah menghancurkan melalui beliau – yaitu Asy-Syaikh Rabi’ – upaya pembunuhan terhadap kaum muslimin dan orang-orang yang mendapatkan jaminan keamanan. Juga tindakan menumpahkan darah. Sebagaimana terjadi di Aljazair, ketika pembunuhan telah merajalela di antara mereka. Asy-Syaikh Rabi’ hafizahullah dan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah memberikan nasehat kepada mereka.

Demikian pula dengan sikap beliau terhadap penduduk Iraq, serta arahan yang beliau sampaikan, yang kemudian berhasil menjaga dakwah dan keamanan mereka, serta kehormatan dan agamanya. Beliau juga memberikan dorongan untuk mencari ilmu, penuh hikmah, dan kesabaran. Serta sikap/peran beliau yang lain.”

Catatan kaki ini aku tulis sebagai tambahan untuk apa yang telah ditulis oleh saudara kami Asy-Syaikh ‘Abdullah Al-Bukhari, semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepadanya. Tidak diragukan lagi bahwa Syaikhuna (Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali) memiliki sejumlah sikap/peran besar yang seharusnya untuk kita menampilkannya, agar umat mengetahui siapa sebenarnya ‘ulama kita. Betapa banyak melalui mereka Allah menjaga agama dan as-sunnah. Betapa banyak fitnah dan kejelekan yang Allah padamkan melalui mereka. Betapa banyak musibah dan bencana yang menimpa kaum muslimin Allah redakan melalui mereka. Yang demikian karena mereka bertolak dari ilmu, hikmah, dan nasehat yang jujur bagi kaum muslimin.

Peristiwa Perang Teluk pertama belumlah jauh dari kita. Para ‘ulama –di bawah pimpinan Al-Imam Al-‘Alim Al-‘Allamah A-Muhaddits Al-Mujahid ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz- memberikan fatwa bolehnya meminta bantuan kepada kekuatan asing dalam melawan pasukan komunis (pasukan Iraq, di bawah pimpinan Shaddam Husain-pen).

Fatwa agung itu telah menjaga pertahanan Islam dan pemeluknya di saat para da’i-da’i ‘pencerahan’ dan ‘penyemangat’, seperti Salman Al-‘Audah dan Safar Al-Hawali, berfatwa dengan penolakan fatwa para ‘ulama tersebut dan berlepas diri darinya – demikian yang mereka yakini!!

Aku katakan : Inilah Al-Mujahid Al-‘Alim As-Salafi yang sangat cemburu terhadap Islam, As-Sunnah dan Manhaj As-Salafi, yaitu Asy-Syaikh Rabi’ Al-Madkhali. Sangat disayangkan ada di sana di antara anak-anak dari keturunan kita dan orang-orang yang tumbuh di negeri tauhid dan sunnah, dan terkadang dari kalangan yang dianggap berilmu dan da’i, yang umat diuji dengan keberadannya. Barangsiapa yang mengenali keutamaan beliau (Asy-Syaikh Rabi’), membaca karya-karyanya, serta mengambil nasehat dan arahan-arahannya, maka dia akan menolak dan waspada dari orang-orang semacam itu.

Demikianlah keadaannya. Hal ini telah terjadi dan aku saksikan sendiri di negeri Indonesia. Salah satu pelajar Indonesia yang hadir di daurah mengabarkan kepadaku bahwasanya pada beberapa hari sebelumnya ia ditemui oleh salah satu wakil Universitas Islam (Madinah) untuk menguji para pelajar yang ingin mendaftar di universitas tersebut. “Penguji tersebut menanyaiku tentang Asy-Syaikh Rabi’ Al-Madkhali, maka aku jawab sesuai dengan pengetahuanku tentang beliau.”, kata pelajar tersebut. Kemudian ia melanjutkan, “Ternyata hasil dari wawancara ini adalah namaku tidak masuk dalam daftar orang-orang yang diterima di unversitas Islam Madinah.”

Kami, demi Allah, sangat menyayangkan munculnya orang-orang seperti ini dari pihak Universitas Islam. Padahal dengannya Allah telah memberikan manfaat kepada Islam dan kaum muslimin. Jika Allah berkehendak, maka universitas tersebut akan senantiasa menjadi sebagai menara tauhid dan sunnah. Bagaimana tidak, sebenarnya universitas ini berdiri di atas ilmu yang benar bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah, serta aqidah As-Salaf ash-Shalih. Berdiri di tangan para ulama rabbani dan kawakan, baik dalam urusan pengaturan maupun pengajaran, seperti Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy-Syaikh, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz, Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Al-Jinki Asy-Syinqithi, Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, dan selain mereka.

Aku memohon kepada Allah agar menetapkan universitas Islam Madinah tersebut dalam kondisi mulia untuk Islam dan kaum muslimin, Sunnah dan tauhid, serta menjauhkannya dari tangan-tangan ahlul ahwa dan hizbiyyin.

Keempat:

Alam Negeri Indonesia, Nikmat-nikmat yang Allah Karuniakan Berupa Pemandangan yang Indah, dan Keajaiban-keajaiban Lainnya

Diantara yang kami saksikan di negeri ini adalah berbagai pemandangan alam yang sangat indah. Yang sangat menakjubkan adalah bagaimana Allah menciptakan dan menghiasinya, berupa berbagai keajaiban-keajaiban, gunung-gunung tinggi yang hijau, hutan yang luas dipenuhi dengan berbagai macam pohon dan bunga, tanah yang dihampari dengan pemandangan yang hijau, ada yang berupa lahan pertanian yang berbuah dan ada yang pemandangan alam yang cantik, sungai-sungai banyak mengalir, hawa yang lembut dan nyaman, awan seperti gunung yang menggumpal di udara bak ombak di lautan, di mana kami bisa melihatnya di bawah kami – yaitu di dalam pesawat – dalam pemandangan yang mengagumkan, ciptaan Allah Yang Maha Hikmah lagi Maha Mulia. Tidak lama kemudian kita akan mengatakan Laa ilaaha illallah, aku beriman kepada Sang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui. Maha Hikmah dan Maha Mulia. Betapa agungnya ciptaan Allah dan betapa lemahnya manusia yang lemah ini dan sombong kepada Allah. Maha Benar Allah ketika berfirman:

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ (6) الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ (7) فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ (8) كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ (9) [الإنفطار/6-10]

Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. Bukan Hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan. (QS. Al-Infithar:6-9)

Dan Allah  berfirman:

أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ (20) فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (21) إِلَى قَدَرٍ مَعْلُومٍ (22) فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَادِرُونَ (23) وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ (24) [المرسلات/20-24]

Bukankah Kami menciptakan kalian dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan air tersebut dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, Lalu Kami tentukan (bentuknya), Maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (QS. Al-Mursalat:20-24)

Sungguh orang akan bertanya-tanya : Apakah hikmah dari (kenyataan) bahwasanya negeri kita (Saudi ‘Arabia) mayoritasnya adalah tanah yang tandus, padang pasir yang gersang dan terlihat putih. Sedikit sekali daerah-daerah yang hijau, kecuali pada sebagian wilayah dan sebagian tempat. Padahal negeri kita adalah tempat turunnya wahyu, Al-Haraiman (Makkah dan Madinah), tempat diutusnya risalah, tempat singgahnya hati-hati kaum muslimin, dan syari’at Islam berdiri tegak, bendera tauhid dan as-sunnah berkibar di angkasanya, sedangkan penguasanya – segala puji bagi Allah – bangga dengan Islam dan as-sunnah. Ilmu juga berdiri tegak. Ulama-ulama rabbani banyak jumlahnya, meskipun amat disayangkan adanya kedurhakaan dari sebagian anak-anak keturunan kami. mereka telah menggantikan yang baik dengan yang buruk. Mereka meninggalkan (manhaj) yang mereka dahulu ditarbiyah di atasnya. Mereka memilih bergabung dengan hizbiyyah yang berporos pada pikiran manusia, dan jama’ah-jama’ah yang muhdatsah bid’ah yang muncul dari negeri-negeri yang tidak berbuat untuk mencapai kebaikan baginya. Mereka menyelundup kepada kita dalam kemasan sebagai bentuk kesemangatan untuk Islam dan cemburu kepada syari’at, sebagaimana diselundupkannya racun dalam madu …?!!

Namun yang kita katakan adalah bahwasanya Rabb kita memiliki hikmah yang tinggi, hujjah yang membungkam. Dia ‘Azza wa Jalla pemilik hak mencipta, memerintah, dan menguasai. Ia mengatur kerajaan-Nya dalam ketelitian yang puncak berdasar hikmah dan keadilan serta rahmat. Ia membuat yang ini miskin dan membuat kaya yang lain, menghinakan yang ini dan memuliakan yang lain. Ia menjadikan yang ini hijau dan berbunga. Menjadikan yang itu putih dan gersang. Ia adalah Rabb kita Yang Maha terpuji atas segala sesuatu baik di dunia maupun di akhirat.

Semoga Allah menyimpankan untuk kita kenikmatan-kenikmatan tersebut, dan yang lebih baik dari itu di negeri yang tidak akan musnah kenikmatannya. Di negeri tersebut terdapat berbagai kenikmatan belum pernah terlihat oleh mata keindahannya, belum pernah didengar oleh telinga, tidak pula pernah terbetik dalam hati manusia.

Betapapun indahnya negeri itu (Indonesia), namun sesungguh hidup di tempat turunnya wahyu dan dua tanah haram, di bawah naungan hukum syari’at Islam, sehingga seorang muslim bisa beribadah kepada Allah dengan aman dan tenang, jauh dari tempat-tempat fitnah dan syahwat, adalah lebih baik ratusan kali daripada itu semua.

Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menghidupkan kita di atas Islam dan as-sunnah, dan agar mematikan kita di atas keimanan dan as-sunnah. Sebagaimana pula kita memohon kepada-Nya agar menjaga bendera tauhid dan sunnah senantiasa dalam keadaan berkibar. Dan agar menjaga negeri ini dengan syari’at yang cemerlang. Dan agar memenangkan kita di atas musuh-musuh kita dari orang-orang kafir dan komunis, serta atas ahlul ahwa dan bid’ah. Dan agar menolak untuk kita berbagai tipu daya para penipu, orang-orang munafik, orang-orang zhalim, dan orang-orang yang menentang.

(Sumber : http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=360996 & diarsipkan di http://www.rabee.net/almadani/andonisia.zip. Dikirimkan oleh al akh Abu Amr melalui email)

dikutip dari http://salafy.or.id tanpa disertai Transkrip Arabnya. Kisah Syaikh Abdullah Shalfiq : Perjalananku ke Indonesia (1-4)
Published in: on September 21, 2007 at 6:50 am  Komentar Dinonaktifkan pada Syaikh Abdullah Shalfiq : Perjalananku ke Indonesia  
  • %d blogger menyukai ini: