Sa’ad bin Abi Waqqash (wafat 55 h)

Nama lengkapnya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash bin Uhaib Az-Zuhri dengan julukan “Abu Ishaq”, Ia adalah salah seorang diantara sepuluh orang sahabat yang mendapat kabar gembira bakal masuk surga, dan orang yang pertama dalam melontarkan panah dalam perang Sabillillah, ia orang yang ke empat lebih dulu masuk Islam melalui tangan Abu Bakar ketika umurnya 17 tahun.

Sa’ad bin Abi Waqqash mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, dalam peperangan itu ia bergabung dalam pasukan berkuda. Ia berasal dari bani Zuhrah seasal dengan ibu Nabi (Aminah).

Khilafah Umar bin Khaththab mengangkatnya menjadi komandan pasukan yang dikirimkan untuk memerangi orang Persia dan berhasil mengalahkannya pada tahun 15 H di Qadisiyah. Setahun setelahnya 16 H di Julailak ia menaklukan Madain dan Bani al-Kuffa pada tahun 17 H.

Sa’ad bin Abi Waqqash adalah penguasa Irak dimasa pemerintahan Umar bin Khaththab yang berlanjut pada masa pemerintahan Utsman bi Affan. Ia adalah seorang diantara enam sahabat orang yang dicalonkan menjadi Khalifah, sejak bencana besar atas terbunuhnya Utsman.

Sa’ad bin Abi Waqqash meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar dan Khaulah binti Hakim.

Yang meriwayatkan hadits darinya adalah Mujahid, Alqamah bin Qais as sa’ib bin Yazid, Sanad paling shahih berpangkal darinya adalah yang diriwayatkan oleh Ali bin Husain bin Ali, dari Sa’id bin al-Musayyab, darinya (Sa’ad bin Abi Waqqash).

Ia wafat pada tahu 55 H di Aqiq.

Disalin dari Biografi Sa’ad dalam Thadzib at Thadzib karya Ibn Hajar Asqalani 3/483 dan Shifaf at Shafwah karya Ibn Jauzi 1/138

Published in: on September 4, 2007 at 10:48 pm  Komentar Dinonaktifkan pada Sa’ad bin Abi Waqqash (wafat 55 h)  

Abu Dzarr Al-Ghifari (wafat 32 H)

Abu Dzaar al-Ghifari Nama aslinya adalah Jundab bin Junadah dinisbatkan kepada kakeknya Junadah yang berasal dari Ghifar, ia seorang Kinani. Abu Dzarr orang yang ahli ibadah sebelum diutusnya Nabi Shallallahu alaihi wassalam. Ia adalah sahabat kelima yang lebih dulu masuk Islam, Ia baru bisa Hijrah setelah perang Khandaq.

Abu Dzarr seorang yang zuhud tidak pernah menyimpan makanan untuk hari esok. Namun dimasa pemerintahan Utsman, ia mengajak orang orang untuk mendirikan semacam baitul mal, hal ini didorong rasa kemanusiaan namun Utsman bin Affan tidak tertarik akan gagasan itu dan selanjutnya ia mengasingkan ke Rabadzah dan menetap disitu sampai wafatnya. Pada saat wafatnya yang kebetulan Ibnu Mas’ud lewat ke Rabadzah dan menshalatkannya jenazahnya.

Abu Dzaar meriwayatkan hadits dari Umar, Ibnu abbas, Ibnu Umar dan lainnya. Yang diriwayatkan darinya antara lain Al-Hanaf bin Qais, Abdurahman bin Ghanam dan Atha’.

Sanad paling shahih yng berpangkal daripadanya ialah yang diriwayatkan dari penduduk syam dari jalur Sa’id bin Abdil Aziz, dar Rabi’ah bin Yazid, dari Abu Idris al-Khaulani, dari Abu Dzarr.

Abu Dzarr meriwayatkan hadits sebanyak 281 hadits

Ia wafat pada tahun 32 H.

Disalin dari Biografi Abu Dzarr dalam al-Ishabah Ibn Hajar Asqalani VII/60, Thabaqaat Ibn Sa’ad IV/161

Baca selengkapnya Biografi abu Dzarr

Published in: on September 4, 2007 at 10:46 pm  Komentar Dinonaktifkan pada Abu Dzarr Al-Ghifari (wafat 32 H)  

Muhammad bin Syihab Az-Zuhri wafat 125 H

Nama sebenarnya adalah Muhammad bin Muslim bin Abdullah, alim dan ahli fiqh. Al-Laits bin Sa’ad berkata: “Aku belum pernah melihat seorang alimpun yang lebih mumpuni dari pada az-Zuhri, kalau ia berbicara untuk memberi semangat, tidak ada yang lebih baik dari pada dia, bila dia berbicara tentang sunnah dan al-Qur’an pembicaraanya lengkap“.

Ibnu Syihab az-Zuhri tinggal di Ailah sebuah desa antara Hijaz dan Syam, reputasinya menyebar sehingga ia menjadi tempat berpaling bagi para ulama Hijaz dan Syam. Selama delapan tahun Ibnu Syihab az-Zuhri ia tinggal bersama Sa’id bin Al-Musayyab di sebua desa bernama Sya’bad di pinggir Syam. Disana pula ia wafat.

Ia membukukan banyak hadits yang dia dengan dan dia himpun. Berkata Shalih bin Kisan:” Aku menuntut ilmu bersama az-Zuhri, dia berkata: mari kita tulis apa yang berasal dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, pada kesempatan yang lain dia berkata pula: “Mari kita tulis apa yang berasal dari Sahabat”, dia menulis dan aku tidak. Akhirnya dia berhasil dan aku gagal”.

Kekuatan hapalan dan kecermatan az-Zuhri dapat disimak oleh Hisyam bin Abdul Malik pernah ia meminta untuk mendiktekan kepada beberapa orang anaknya, dan az-Zuhri ternyata mampu mendiktekan 400 hadits. Setelah keluar dari rumah Hisyam dan kepada yang lainpun ia menceritakan 400 hadits tersebut. Setelah sebulan lebih ia bertemu lagi dengan az-Zuhri, Hisyam berkata kepadanya “Catatanku dulu itu telah hilang “, kali ini dengan memanggil Juru tulis az-Zuhri mendiktekan lagi 400 hadits tersebut. Hisyam mengagumi kemampuan az-Zuhri,.

Kecermatan dan penguasaan hadits oleh az-Zuhri membuat Amr bin Dinar mengakui keutamaanya dengan berkata :”Aku tidak melihat ada orang yang yang pengetahuannya terhadap hadits melebihi az-Zuhri”.

Az-Zuhri memang selalu berusaha keras untuk meriwayatkan hadits, ada yang berkata bahwa az-Zuhri menghimpun hadits jumlahnya mencapai 1.200 hadits, tetapi yang musnad hanya separuhnya.

Az-Zuhri meriwayatkan hadits bersumber dari Abdullah bin Umar, Abdullah bin Ja’far, Shal bin Sa’ad, Urwah bin az-Zubair, Atha’ bin Abi Rabah. Ia juga mempunyai riwayat riwayat yang mursal dari Ubadah bin as-Shamit, Abu Hurairah, Rafi’ bin Khudaij, dan beberapa lainnya.

Imam bukhari berpendapat bahwa sanad az-Zuhri yang paling shahih adalah az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya. Sedangkan Abu Bakar bin Abi Syaibah menyatakan bahwa sanadnya yang paling shahih adalah az-Zuhri, dari Ali bin Husain, dari bapaknya dari kakeknya (Ali bin Abi Thalib)”.

Ia wafat di Sya’bad pada tahun 123 H, ada yang mengatakan ia wafat tahun 125 H.

Disalin dari Biografi az-Zuhri dalam Tahdzib at Tahdzib : Ibn Hajar Asqalani 9/445

Published in: on September 4, 2007 at 12:59 pm  Komentar Dinonaktifkan pada Muhammad bin Syihab Az-Zuhri wafat 125 H  

Ummu Hani’ bintu Abi Thalib Al-Hasyimiyyah radhiallahu ‘anha

Dia bernama Fakhitah, seorang wanita dari kalangan bangsawan Quraisy. Putri paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Thalib Abdu Manaf bin Abdil Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay. Ibunya bernama Fathimah bintu Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf. Dia saudari sekandung ‘Ali, ‘Aqil dan Ja’far, putra-putra Abu Thalib.

Pada hari pembukaan negeri Makkah itu, ada dua kerabat suami Ummu Hani` dari Bani Makhzum, Al-Harits bin Hisyam dan Zuhair bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah, datang kepada Ummu Hani` untuk meminta perlindungan. Waktu itu datang pula ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menemui Ummu Hani` sambil mengatakan, “Demi Allah, aku akan membunuh dua orang tadi!” Ummu Hani` pun menutup pintu rumahnya dan bergegas menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Saat itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah mandi, ditutup oleh putri beliau, Fathimah radhiallahu ‘anha dengan kain. Ummu Hani` pun mengucapkan salam, hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Siapa itu?” “Saya Ummu Hani`, putri Abu Thalib,” jawab Ummu Hani`. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyambutnya, “Marhaban, wahai Ummu Hani`!”

Setelah Ummu Hani` berpisah dari suaminya karena keimanan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk meminang Ummu Hani`. Namun dengan halus Ummu Hani` menolak, “Sesungguhnya aku ini seorang ibu dari anak-anak yang membutuhkan perhatian yang menyita banyak waktu. Sementara aku mengetahui betapa besar hak suami. Aku khawatir tidak akan mampu untuk menunaikan hak-hak suami.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengurungkan niatnya. Beliau mengatakan, “Sebaik-baik wanita penunggang unta adalah wanita Quraisy, sangat penyayang terhadap anak-anaknya.”

Ummu Hani` radhiallahu ‘anha meriwayatkan hadits-hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hingga saat ini termaktub dalam Al-Kutubus Sittah. Dia pun menyebarkan ilmu yang telah dia dulang hingga saat akhir kehidupannya, jauh setelah masa khilafah saudaranya, ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, pada tahun ke-50 H. Ummu Hani` Al-Hasyimiyyah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhainya…. Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber : ( Al-Bidayah wanq Nihayah, Al-Imam Ibnu Katsir (4/292-293), Al-Ishabah,q Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani (7/317), Al-Isti’ab,q Al-Imam Ibnu Abdil Barr (4/1963-1964), Ath-Thabaqatulq Kubra, Al-Imam Ibnu Sa’d (8/47), Siyar A’laminq Nubala`, Al-Imam Adz-Dzahabi (2/311-314), Tahdzibul Kamal, Al-Mizzi (35/389-390), dari http://www.asysyariah.com )

Published in: on September 4, 2007 at 7:39 am  Komentar Dinonaktifkan pada Ummu Hani’ bintu Abi Thalib Al-Hasyimiyyah radhiallahu ‘anha  

Imam Asy Syaukani (wafat 172-250H)

Nama dan Nasabnya

Beliau adalah al Imam al Qadhi Abu Ali Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah asy-Syaukani, ash-Shan’ani.

Kelahiran Beliau

Beliau dilahirkan pada tengah hari 28 Dzulqa’dah 172 H di Hijratu Syaukan, Yaman.

Pertumbuhan Beliau

Beliau tumbuh di bawah asuhan ayahandanya dalam lingkungan yang penuh dengan keluhuran budi dan kesucian jiwa. Beliau belajar al-Qur’an di bawah asuhan beberapa guru dan dikhatamkan di hadapan al-Faqih Hasan bin Abdullah al Habi dan beliau perdalam kepada para masyayikh al-Qur’an di Shan’a. Kemudian beliau menghafal berbagai matan dalam berbagai disiplin ilmu, seperti: al Azhar oleh al Imam al Mahdi, Mukhtashar Faraidh oleh al Ushaifiri, Malhatul Harm, al Kafiyah asy Syafiyah oleh Ibnul Hajib, at-Tahdzib oleh at-Tifazani, at-Talkhish fi Ulumil Balaghah oleh al Qazwaini, al Ghayah oleh Ibnul Imam, Mamhumah al Jazarifil Qira’ah, Mamhumah al Jazzar fil ‘Arudh, Adabul Bahts wal Munazharah oleh al Imam al-’ Adhud.

Pada awal belajarnya beliau banyak menelaah kitab-kitab tarikh dan adab. Kemudian beliau menempuh perjalanan mencari riwayat hadits dengan sama dan talaqqi kepada para masyayikh hadits hingga beliau mencapai derajat imamah dalam ilmu hadits. Beliau senantiasa menggeluti ilmu hingga berpisah dari dunia dan bertemu Rabbnya.

Guru-guru

Di antara guru-guru beliau ialah:

  1. Ayahanda beliau yang kepadanya beliau belajar Syarah al-Azhar dan Syarah Mukhtashar al-Hariri.
  2. As Sayyid al Allamah Abdurrahman bin Qasim al Madaini, beliau belajar kepadanya Syarah al-Azhar.
  3. Al Allamah Ahmad bin Amir al Hadai, beliau belajar kepadanya Syarah al-Azhar.
  4. Al Allamah Ahmad bin Muhammad al-Harazi, beliau berguru kepadanya selama 13 tahun, mengambil ilmu fiqih, mengulang-ulang Syarah al Azhar dan hasyiyahnya, serta belajar bayan Ibnu Muzhaffar dan Syarah an-Nazhiri dan hasyiyahnya.
  5. As Sayyid al Allamah Isma’il bin Hasan, beliau belajar kepadanya al-Malhah dan Syarahnya.
  6. Al Allamah Abdullah bin Isma’il as-Sahmi, beliau belajar kepadanya Qawaidul I’rab dan Syarahnya serta Syarah al Khubaishi ‘alal Kafiyah dan Syarahnya.
  7. Al Allamah al Qasim bin Yahya al-Khaulani, beliau belajar kepadanya Syarh as Sayyid al-Mufti ‘alal Kafiyah, Syarah asy-Syafiyah li Luthfillah al Dhiyats, dan Syarah ar-Ridha ‘alal Kafiyah.
  8. As Sayyid al Allamah Abdullah bin Husain, beliau belajar kepadanya Syarah al fami ‘alal Kafiyah.
  9. Al Allamah Hasan bin Isma’il al Maghribi, beliau belajar kepadanya Syarah asy- Syamsiyyah oleh al Quthb dan Syarah al- ‘Adhud ‘alal Mukhtashar serta mendengarkan darinya Sunan Abu Dawud dan Ma’alimus Sunan.
  10. As Sayyid al Imam Abdul Qadir bin Ahmad, beliau belajar kepadanya Syarah Jam’ul Jawami’ lil Muhalli dan Bahruz Zakhkhar serta mendengarkan darinya Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Muwaththa Malik, dan Syifa’ Qadhi ‘lyadh.
  11. Al Allamah Hadi bin Husain al-Qarani, beliau belajar kepadanya Syarah al-Jazariyyah.
  12. Al Allamah Abdurrahman bin Hasan al Akwa, beliau belajar kepadanya Syifa al Amir Husain.
  13. Al Allamah Ali bin Ibrahim bin Ahmad bin Amir, beliau mendengarkan darinya Shahih Bukhari dari awal hingga akhir.
Murid-muridnya

Di antara murid-murid beliau ialah: kedua putra beliau yakni al Allamah Ali bin Muhammad asy Syaukani dan al Qadhi Ahmad bin Muhammad asy Syaukani, al Allamah Husain bin Muhasin as-Sab’i al Anshari al Yamani, al Allamah Muhammad bin Hasan asy Syajni adz Dzammari, al Allamah Abdul Haq bin Fadhl al-Hindi, asy-Syarif al Imam Muhammad bin Nashir al Hazimi, Ahmad bin Abdullah al Amri, as Sayyid Ahmad bin Ali, dan masih banyak lagi.

Kehidupan llmiah

Beliau belajar fiqih atas madzhab al Imam Zaid sehingga mumpuni. Beliau menulis dan berfatwa sehingga menjadi pakar dalam madzhab tersebut. Kemudian beliau belajar ilmu hadits sehingga melampaui para ulama di zamannya. Kemudian beliau melepaskan diri dari ikatan taklid kepada madzhab Zaidiyyah dan mencapai tingkat ijtihad.

Beliau menulis kitab Hadaiqil Azhar al-Mutadaffiq ‘ala Hadaiqil Azhar. Dalam kitab tersebut beliau mengkritik beberapa permasalahan dalam kitab Hadaiqil Azhar yang merupakan rujukan utama madzhab Zaidiyyah dan meluruskan kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam kitab tersebut. Maka bergeraklah para muqallidin (orang yang selalu taklid, mengikuti pendapat orang lain tanpa berusaha mencari ilmunya red.) membela kitab tersebut sehingga terjadilah perdebatan yang panjang.

Tidak henti-hentinya beliau mengingatkan umat dari taklid yang tercela dan mengajak umat agar ittiba kepada dalil. Beliau menulis risalah dalam hal tersebut yang berjudul al Qaulul Mufiid fi Hukmi Taqlid.

Aqidahnya

Aqidah beliau adalah aqidah salaf yang menetapkan sifat-sifat Alloh yang datang dalam Kitab dan Sunnah shahihah tanpa mentakwil dan mentahrif. Beliau menulis risalah dalam aqidah yang berjudul at Tuhaf bi Madzhabis Salaf.

Beliau gigih mendakwahi umat kepada aqidah salafiyyah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Demikian juga, beliau selalu berusaha mensucikan aqidah dari kotoran-kotoran kesyirikan.

Beliau Menjabat Sebagai Qadhi Negeri Yaman

Pada tahun 209 H meninggallah Qadhi Yaman, Syaikh Yahya bin Shalih asy Syajari as Sahuli. Maka Khalifah al Manshur meminta kepada al Imam asy Syaukani agar menggantikan Syaikh Yahya sebagai qadhi negeri Yaman.

Pada awalnya beliau menolak jabatan tersebut karena takut akan disibukkan dengan jabatan tersebut dari ilmu. Maka datanglah para ulama Shan’a kepada beliau meminta agar beliau menerima jabatan tersebut, karena jabatan tersebut adalah rujukan syar’i bagi para penduduk negeri Yaman yang dikhawatirkan akan diduduki oleh seseorang yang tidak amanah dalam agama dan keilmuannya. Akhirnya beliau menerima jabatan tersebut. Beliau menjabat sebagai Qadhi Yaman hingga beliau wafat pada masa pemerintahan tiga khalifah: al Manshur, al Mutawakkil, dan al Mahdi. Ketika beliau menjabat sebagai qadhi maka keadilan ditegakkan, kezhaliman diberi pelajaran, penyuapan dijauhkan, fanatik buta dihilangkan, dan beliau selalu mengajak umat kepada ittiba terhadap Kitab dan Sunnah.

Tulisan-tulisanya

Di antara tulisan-tulisan beliau ialah:

  1. Adabu Thalib wa Muntahal Arib.
  2. Tuhfatu Dzakirin.
  3. Irsyadu Tsiqat ila Ittifaqi Syarai’ ‘ala Tauhid wal Ma’ad wan Nubuwat.
  4. Ath Thaudul Muniffil Intishaf lis Sad minasy Syarif.
  5. Syifaul ilal fi Hukmu Ziyadah fi Tsaman li Mujarradil Ajal.
  6. Syarhu Shudur fi Tahrimi Raf’il Qubur.
  7. Thibu Nasyr fi Masailil Asyr.
  8. Shawarimul Hindiyyah al Maslulah ‘alar Riyadhan Nadiyyah.
  9. Al Qaulush Shadiq fi Hukmil Imamil Fasiq.
  10. Risalah fi Haddi Safar Aladzi Yajibu Ma’ahu Qashru Shalat.
  11. Tasynifu Sam’i bi Ibthali Adillatil Jam’i.
  12. Risalah al Mukammilah fi Adillatil Basamalah.
  13. Iththila’u Arbabil Kamal ‘ala Ma fi Risalatil Jalal fil Hilal minal Ikhtilal.
  14. Tanbih Dzawil Hija ‘ala Hukmi Bai’ir Riba.
  15. Al Qaulul Muharrar fi Hukmi Lubsil Mu’ashfar wa Sairi Anwa’il Ahmar.
  16. Uqudul Zabarjad fi Jayyidi Masaili Alamati Dhamad.
  17. Ibthali Da’wal Ijma ‘ala Tahrimis Sama’.
  18. Zahrun Nasrain fi Haditsil Mu’ammarin.
  19. Ittihaful Maharah fil Kalam’ala Hadits: “La ‘Adwa wa La Thiyarah.”
  20. Uqudul Juman fi Bayani Hududil Buldan.
  21. Hallul Isykal fi Ijbaril Yahud ‘ala Iltiqathil Azbal.
  22. Al Bughyah fi Mas’alati Ru’yah.
  23. Irsyadul Ghabi ila Madzhabi Ahlil Bait fi Shabin Nabi.
  24. Raf’ul Junah an Nafil Mubah.
  25. Qaulul Maqbul fi Raddi Khabaril Majhul min Ghairi Shahabatir Rasul.
  26. Amniyyatul Mutasyawwiq ila Ma’rifati Hukmi ‘Ilmil Manthiq.
  27. Irsyadul Mustafid ila Daf’i Kalami Ibnu Daqiqil ‘Id fil Ithlaq wa Taqyid.
  28. Bahtsul Musfir an Tahrimi Kulli Muskir.
  29. Dawa’ul Ajil li Daf’il Aduwwi Shail.
  30. Durru Nadhid fi Ikhlashi Kalimati Tauhid.
  31. Risalah fi Wujubi Tauhidillah.
  32. Nailul Author Syarh Muntaqal Akhbar.
  33. Maqalah Fakhirah fi Ittifaqi Syarai’ ‘ala Itsbati Daril Akhirah.
  34. Nuzhatul Ahdaq fi Ilmil Isytiqaq.
  35. Raf’u Ribah fi Ma Yajuzu wa Ma La Yajuzu minal Ghibah.
  36. Tahrirud Dalail ‘ala Miqdari Ma Yajuzu bainal Imam wal Mu’tamm minal Irtifa’ wal Inkhifadh wal Bu’du wal Hail.
  37. Kasyful Astar fi Hukmi Syuf’ati bil Jiwar.
  38. Wasyyul Marqum fi Tahrimi Tahalli bidz Dzahab lir Rijal minal Umum.
  39. Kasyful Astar fi Ibthalil Qaul bi Fanain Nar.
  40. Shawarimul Haddad al Qathi’ah li ‘Alaqi Maqali Ahlil Ilhad.
  41. Isyraqu Nirain fi Bayanil Hukmi Idza Takhallafa ‘anil Wa’di Ahadul Khashmain.
  42. Hukmu Tas’ir.
  43. Natsrul Jauhar fi Syarhi Hadits Abi Dzar.
  44. Minhatul Mannan fi Ujratil Qadhi was Sajjan.
  45. Risalah fi Hukmil ‘Aul.
  46. Tanbihul Amtsal ‘ala Jawazil Isti’anah min Khalishil Mal.
  47. Qathrul Wali fi Ma’rifatil Wali.
  48. Taudhih fi Tawaturi Ma Ja’a fil Mahdil Muntazhar wad Dajjal wal Masih.
  49. Hukmul Ittishal bis Salathin.
  50. Jayyidu Naqd fi ‘Ibaratil Kasysyaf was Sa’d.
  51. Bughyatul Mustafid fi Raddi ‘ ala Man Ankaral Ijtihad min Ahli Taqlid.
  52. Radhul Wasi’ fid Dalil Mani’ ‘ala Adami Inhishari Ilmil Badi’.
  53. Fathul Khallaq fi Jawabi Masail Abdirrazaq.
Wafatnya

Al-Imam asy-Syaukani wafat pada malam Rabu 27 Jumada Tsaniyyah 250 H di Shan’a. Semoga Alloh meridhai beliau dan menempatkan beliau dalam keluasan jannah-Nya.

Published in: on September 4, 2007 at 6:28 am  Komentar Dinonaktifkan pada Imam Asy Syaukani (wafat 172-250H)  

biografiku

Nama Ahmad Abu Faza Ibn Abbas Abdul Hamid, dilahirkan di Sungaigerong Palembang, saya hanyalah seorang “Thulabul ‘Ilmi”.

Istri bernama Aminah binti Ahmad Badri Shaleh, ia istri yang Shalehah, kesehariannya disamping mengurus anak dia juga setiap hari menghapal al-Quran, Qona’ah dan bila akan keluar rumah dia selalu minta izin saya dengan menelpon kalau saya sedang diluar rumah. Alhamdulillah saya dikaruniai oleh Allah istri yang Sholehah.

Saya dikaruniai 5 orang anak laki laki. Nama-namanya adalah :

  1. Fachrurazi Faza
  2. Nizar Zulfiqar,
  3. Muhammad al-Ghazy,
  4. Abdullah,
  5. Umar Abdul Karim,
  6. ..

Sejak kecil saya sering berpindah tempat dari suatu kota ke kota lainnya mengikuti ayah bekerja, demikian pula saya saat sekarang ini bekerja di Makhtabul Barid di Bandung, berpindah pindah juga yang sebelumnya pernah di Makassar (3 tahun) , Kediri (3,5 tahun), Malang ( 4 tahun) dan sekarang di Bandung.

Saya mengenal Manhaj Salaf sejak di Makassar tahun 2003 melalui rekan saya Abu Abdillah dan Alhamdulillah sampai sekarang ini tetap istiqomah, Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberi kekuatan kepadaku sampai akhir hidupku.

Suatu saat nanti ada dari keluarga saya menemukan bloq saya ini, saya berpesan inilah jalan yang saya ambil jalan orang orang terdahulu yang selalau ittiba’ (mengikuti) Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Inilah para ulama “Ahlus sunnah”  itu..

Demikian biografi singkat tentang diri saya.

Home

Published in: on September 4, 2007 at 5:51 am  Komentar Dinonaktifkan pada biografiku  

Sa’id bin Jubair (wafat 95 H)

Nama lengkapnya adalah Sa’id bin Jubair al-Asadi al-Kufi, yang mempunyai julukan “Abu Abdillah”, Ia seorang ahli fiqh, pembaca al-Qura’an yang fasih dan ahli ibadah. Sufyan ats-Tsauri lebih mendahulukannya dari pada Ibrahim an-Nakha’I, ia berkata:” Ambilah tafsir dari empat orang, yaitu dari Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ikrimah dan adl-Dlahhak”.

Ibnu Jubair pernah menulis untuk Abdullah bin Utbah bin Mas’ud ketika Abdullah menjadi Qodli di Kuffah. Sesudah itu ia menulis untuk Abi Burdah bin Abi Musa.

Sa’id bin Jubair meriwayatkan dari Abdullah bi az-Zubair, Anas bin Malik, Abu Sa’id al Qudri, dari mereka ini hadits-haditsnya Musnad. Namun, Ia tidak mendengar langsung dari Abu Hurairah, Abu Musa al-Asy’ari, Ali, Sayiidah Aisyah. Jadi semua riwayatnya dari mereka adalah Mursal.

Mengenai hal ini Yahya bin Sa’id berkata:” Hadits-hadits Mursal Sa’id lebih aku sukai dari pada hadist-hadist Mursal Atha’”.

Yang meriwayatkan hadits dari Sa’id bin Jubair antara lain: al-Amasi, Mansyur bin al-Mu’tamir, Ya’la bin Hakim,ats-Tsaqafi, dan Simak bin Harb.

Maimun bin Mahran berkata:” Sa’id bin Jubair meninggal dunia, saat orang orang membutuhkan ilmunya”.

Ia wafat pada tahun 95 H di Kuffah.

Disalin dari Biografi Sa’id bi Jubair dalam Thabaqat Ibn Sa’ad 6/178, Tahdzib at Tahdzib Ibn Hajar 4/11

Published in: on September 4, 2007 at 5:50 am  Komentar Dinonaktifkan pada Sa’id bin Jubair (wafat 95 H)