Ibnu Abi Syaibah (159-235 H)

Nama, Kunyah, dan Kelahiran Beliau

Beliau bernama Abdullah bin Muhammad bin Al-Qadli Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman bin Kuwasta. Beliau seorang imam yang alim, pemimpin para hafidh, penulis kitab-kitab besar seperti Al-Musnad, Al-Mushannaf, dan At-Tafsir. Kunyahnya adalah Abu bakr Al-‘Absi. Lahir tahun 159 H.

Guru-Guru Beliau

saudara beliau, ‘Utsman bin Abi Syaibah dan Al-Qasim bin Abi Syaibah Adl-Dla’if. Al-Hafidh Ibrahim bin Abi Bakr adalah anak beliau. Al-Hafidh Abu Ja’far Muhammad bin ‘Utsman adalah kemenakan beliau. Mereka semua adalah perbendaharaan ilmu. Abu Bakr yang paling terhormat di kalangan mereka. Beliau termasuk aqran (yang berdekatan secara umur dan isnad) Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Ali bin Al-Madini dari sisi umur, kelahiran, dan hapalannya. Yahya bin Ma’in adalah yang paling tua beberapa tahun di antara mereka.

Beliau menuntut ilmu sejak masih kecil. Guru beliau yang paling tua adalah Syarik bin Abdillah Al-Qadli.

Murid-Murid Beliau

Banyak murid-murid beliau yang mendengar hadits dari beliau, diantaranya adalah :

1. Abul-Ahwash Sallam bin Sulaim.
2. Abdus-salam bin Harb.
3. Abdullah bin Mubarak.
4. Jarir bin Abdil Hamid.
5. Abul-Khalid Al-Ahmar.
6. Sufyan bin ‘Uyainah.
7. Ali bin Mushir.
8. Ibad bin Awwam.
9. Abdullah bin Idris.
10. Khalaf bin Khalifah (ada yang menyatakan bahwa ia seorang tabi’I).
11. Abdul-‘Aziz bin Abdish-Shamad Al-‘Amiyyi.
12. Umar bin ‘Ubaid Ath-Thanafisi dan dua orang saudaranya yaitu :
13. Muhammad, dan
14. Ya’la.
15. Ali bin Hasyim Al-barid.
16. Husyaim bin basyir.
17. Abdul-A’la bin Abdil-A’la.
18. Waki’ bin Al-Jarrah.
19. yahya Al-Qathhan.
20. Isma’il bin ‘Iyasy.
21. Abdurrahim bin Sulaiman.
22. Abu Mu’awiyyah.
23. Yazid bin Al-Miqdam.
24. Marhum Al-‘Athar, dan lain-lain di Iraq dan Hijaz.

Beliau adalah lautan ilmu dan dijadikan contoh dalam kekuatan hapalannya. Diantara yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah Syaikhain (Bukhari dan Muslim), Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’I, dan para rekan beliau. Namun At-Tirmidzi tidak meriwayatkan dalam Jami’-nya. Demikian pula Muhammad bin Sa’ad Al-Khathib, Muhammad bin Yahya, Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah, Abu Bakar bin Abi ‘Ashim, Baqiyyu bin Makhlad, Muhammad bin Wadlah – seorang muhaddits dari negeri Andalus – , Al-Hasan bin Sufyan, Abu Ya’la Al-Maushuli, dan lain-lain.

Komentar Para Ulama tentang Beliau

yahya bin Abdul Hamid Al-Himami mengatakan : “Anak-anak Ibnu Abi Syaibah adalah para ulama. Mereka berdesak-desakan dengan kami ketika belajar dari setiap muhaddits.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Abu Bakr seorang yang sangatjujur (shaduq) dan lebih aku sukai daripada saudaranya, ‘Utsman”.

Imam Ahmad bin Abdillah Al-‘Ijli mengatakan : “Abu Bakar adalah seorang yang tsiqah (terpercaya), ia juga seorang hafidh (penghapal) hadits”.

‘Amr bin Ali Al-Fallas menyatakan : “Aku belum pernah melihat orang yang lebih kuat hapalannya daripada Abu Bakr bin Abi Syaibah. Dia datang kepada kami bersama ‘Ali Al-Madini, kemudian membacakan 400 hadits dengan cepat dan hapal di hadapan Syaibani, kemudian berdiri dan pergi”.

Imam Abu ‘Ubaid mengatakan : “Hadits terhenti (habis) pada empat orang, yaitu Abu Bakar bin Abi Syaibah yang cepat mengambil, Ahmad yang paling paham, Yahya bin Ma’in yang paling banyak mengumpulkan, dan Ali bin Al-Madini yang paling alim”.

Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ala Al-Jurjani mengatakan : “Aku bertanya kepada Ibnu Abi Syaibah ketika aku bersamanya di Jabbanah : ‘Wahai Abu bakr, ketika engkau belajar dari Syarik, umurmu berapa?’. Beliau berkata : ‘Ketika itu aku masih berumur 14 tahun, dan ketika itu aku lebig hapal hadits daripada hari ini”.

‘Abdan Al-Ahwazi mengatakan : “Abu bakr duduk di sebuah tiang, sedangkan saudaranya, Masybudanah, Abdullah bin Barrad dan lain-lain semua diam kecuali Abu Bakr; dia berbicara. Tiang itu, kata Ibnu ‘Adi, adalah tiang yang biasa diduduki oleh Ibnu Uqdah. Ibnu ‘Uqdah pernah berkata kepadaku : Inilah tiang tempat Ibnu Mas’ud mengajar, kemudian diganti Al-Qamah, kemudian diganti Ibrahim, Manshur, Sufyan Ats-Tsauri, Waki’, Ibnu Abi Syaibah, dan setelah beliau, Muthayyin, kemudian Ibnu Said”.

 

Shalih bin Muhammd Al-hafidh Jarrah mengatakan : “Orang yang pernah aku jumpai yang paling tahu tentang hadits dan ‘illat-‘illat-nya adalah Ali Al-madini dan yang paling tahu tentang tashhif (perubahan lafadh baik secara bacaan, titik maupun huruf, dan lain-lain) para syaikh adalah Ibnu ma’in. Serta yang paling hapal di antara mereka ketika mudzakarah (berdialog) adalah Abu Bakr bin Abi Syaibah.

 

Al-hafidh Abul-‘Abbas bin ‘Uqdah berkata bahwa ia mendengar Abdurrahman bin Khirasy mengatakan bahwa Abu Zur’ah pernah menyebutkan : “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih hapal daripada Ibnu Abi Syaibah”. Maka Abdurrahman bin Khirasy berkata : “Hai Abu Zur’ah, bagaimana dengan teman-teman kami dari Baghdad?”. Beliau berkata : “Tinggalkanlah teman-temanmu, mereka adalah orang-orang yang gersang. Aku belum pernah melihat orang yang lebih kuat hapalannya daripada Ibnu Abi Syaibah”.

 

Al-Khathib berkata : “Abu Bakr Adalah Seorang yang mutqin (kuat hapalan) lagi hafidh. Beliau menulis Al-Musnad, Al-Ahkam, dan At-Tafsir. Dan dia juga menyampaikan hadits di Baghdad bersama dua saudaranya : Al-Qashim dan ‘Utsman”.

 

Pada tahun 234 H, kata Ibrahim Nafthawaih, Al-Mutawakkil membuat cemas para fuqahaa dan muhadditsiin. Di kalangan mereka ada Mush’ab bin Abdillah Az-Zubairi, Ishaq bin Abi Isma’il, Ibrahim bin Abdillah Al-Harawi, Abu Bakr dan ‘Utsman dua anak Abu Syaibah, keduanya termasuk para huffadh. Kemudian mereka diberi surat tugas. Lalu Al-Mutawakkil menyuruh mereka untuk menyampaikan hadits-hadits yang mengandung bantahan terhadap kaum Mu’tazilah dan Jahmiyyah. Majelis ‘Utsman ada di kota Manshur yang berkumpul menuntut ilmu darinya sekitar tiga puluh ribu orang. Sedangkan Abu Bakr di Masjid Rushafah dan dia lebih terkenal daripada saudaranya. Muridnya berjumlah sekitar tiga puluh ribu orang.

 

Abu Bakr adalah seorang yang kuat jiwanya. Bila dia menjumpai sebuah hadits yang Yahya bin Ma’in tafaradda (menyendiri dalam meriwayatkannya) dari Hafsh bin Ghiyats, dia akan mengingkarinya seraya berkata : “Darimana dia mendapatkan hadits ini? Ini buku Hafsh, tidak ada hadits itu di dalamnya”.

 

Imam Ad-Daruwardi mengatakan : “Abu bakr adalag seorang hafidh, sulit dicari tandingannya, kokoh dalam redaksi hadits”.

Ibnu Hajar berkata : “Dia seorang Kufi yang tsiqah lagi hafidh. Dia memiliki banyak karangan”.

Ibnu Qani’ berkata : “Dia tsiqah”.

Adz-Dzahabi berkata : “Abu bakr termasuk orang yang melompati jembatan. Dan kepadanya berakhir ke-tsiqah-an”.

Karya-karya beliau antara lain adalah :

1. Al-Mushannaf.
2. At-tarikh. Kitab ini ada di Berlin dengan nomor perpustakaan 9409.
3. Kitaabul-Iimaan.
4. Kitaabul-‘Adab.
5. Tafsir Ibnu Abi Syaibah.
6. Kitaabul-Ahkaam.
7. Kitaab Taabul-Qur’an.
8. Kitaabul-Jumal.
9. Kitaabur-Radd ‘alaa Man Radda ‘alaa Abi hanifah.
10. Kitaabul-Futuh.
11. Al-Musnad.

Wafat Beliau

beliau wafat, kata Imam Bukhari, pada bulan Muharram tahun 235 H. Dan Al-Khathib Al-baghdadi menambahkan dengan wafat di waktu ‘isya’ yang akhir. Semoga kita bisa mengikuti jalan beliau di ataa kebaikan. Amiin.

–ooOoo–

About these ads
Published in: on Oktober 14, 2007 at 4:25 pm  Komentar Dimatikan  
  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 226 pengikut lainnya.

    %d bloggers like this: